Menjemput bidadari di Pondok Pesantren

Santriwati

Bidadari di pondok pesantren

Menjadi ritual tersendiri menge-ping artikel setelah selesai update posting, termasuk setelah selesai menulis artikel tentang cooking class. Lanjut blog walking, berhubung baru di tantang banyak-banyakan posting malam ini, ywd langsung kunjugi blog si kompetitor. Hahaha..tertawa terbahak-bahak kawan, kalo ndak percaya coba deh kunjungi blog yang aku kasi link di atas. Si owner sedang galau oleh wanita. Yap…pengusaha muda yang galau oleh wanita, banyak lho ternyata… ^^ (*curcol…)

Pingin rasanya comment yang aneh-aneh, menanggapi sebuah dilema yang mayoritas dialami oleh pengusaha muda. Tapi keburu oleh dering telepon. “Ree, aku jemput 5 menit lagi yah. Siap-siap, temenin makan sego godhog” (*kuliner malam khas Bantul berupa nasi rebus). Berhubung yang menelpon bos besar pengusaha pemuda alias ketua HIPMI (Himpunan Pengusaha Muda Indonesia), aku si langsung ayuk ajah. Tutup laptop, ganti kaos, kunci pintu, capcuzz dengan mobil jemputan.

***

Sedikit terperangah ketika sampai di lokasi. “Antri 25 yah mas….” ujar ibu penjual nasi. Hahaha..alamat bisa begadang nih, antri 25 bisa-bisa 2 jam waktu untuk menunggu. Tapi tak apalah, malah cukup waktu buat ngobrol ngalor-ngidul tukar pikiran. Pembicaraan mengalir dari kondisi bisnis sekarang, keadaan organisasi, hingga akhirnya mengerucut ke arah pribadi.

jadi Ree kamu sama yang luar jawa?” tanya mas Angky.

InsyaAlloh mas, semoga ada kemudahan. Ya semoga adat bukan halangan.” jawabku.

“Kalo jadi halangan gimana?” kejar mas Angky.

Ywd cari yang deket-deket sini ajah...” jawabku polos.

Tawa mas Angky pun meledak. Sebagai pengusaha senior tentu pengalaman beliau lebih banyak. Langsung dah nasehat-nasehat bijak mengalir. “Dulu aku juga begitu. Sedikit galau untuk urusan jodoh. Banyak yang deketin aku (*bagian ini dia narsis) dan akhirnya bingung untuk memilih. Agama mengajarkan kita untuk memilih berdasar agama, keturunannya, kekayaannya, dan kecantikannya. So seandainya hingga usiaku saat ini aku belum menikah, yang akan aku lakukan adalah…pergi ke pesantren. Kenapa? Dari segi agama jelas pesantren mengajarkan tentang agama. Dari segi keluarga pun jika menganjurkan putrinya sekolah di pesantren besar kemungkinan dari keluarga baik-baik. Soal kekayaan…cari ajah pesantren yang middle up, kan ortunya juga termasuk mampu. Kalo soal cantik, bilang ajah ama Pak Kiai, saya siap nikah dan kalo boleh Pak Kiai pilihkan yang paling cantik dan saya bisa memilih…hahahaha….”

Kamipun tertawa terbahak-bahak. Tapi setelah aku pikir bener juga ya….hahaha… ^^

Advertisements

18 thoughts on “Menjemput bidadari di Pondok Pesantren

  1. Nungki

    ehmmm…mbak baju biru di atas, apakah ‘yg dr luar Jawa’? ^_^
    Maaf ya blm bisa jd blogger.. saat ini masih mblenger krn experiment hehehe…

    Reply
  2. andry

    insya alloh kalau ada jodoh anak pesantren harrim insya alloh yang mw ber ta’arufan dengan saya saya kerja dan usha sendiri umur 29 jalan tinggi 170 berat proporsional mencari wanita solehah

    Reply
  3. Muhammad Yunus Sulaiman Al mukarram

    Nama aku muhammad yunus sulaiman….aku berhrap pihak pondok dapat membantu aku menemukan pendampin d pondok

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s