I am a Pharmacist

Pharmacist Blogger Award

Mendapatkan sebuah award memang menyenangkan, tapi awarding kali ini sempat membuat aku sedikit tersenyum, ada-ada saja batinku. Hm mungkin karena faktor usia, terkadang hal-hal seperti ini terkesan aneh, tapi setelah aku resapi, ini cukup menyenangkan. Memperkenalkan profesiku ke orang banyak dengan jalan yang berbeda. Terima kasih kepada Lailaturrahmi yang telah memberikan award ini sebelumnya.

Berhubung aku mendapatkan award, menjadi kewajiban untuk menulis perjalanan pribadiku sebagai seorang Apoteker. OK, kita mulai. Bismillah….

***

Mengapa memilih Farmasi?

Hm sebenarnya lebih tepat “mengapa masuk Farmasi?” Dan jawabannya adalah simple, “permintaan orang tua“. Lucu juga aku yang tergila-gila dunia teknologi dan desain grafis masuk dunia “obat”. Wew…berat. Tapi karena ini permintaan orang tua, ya kudu di jalani. InsyaAlloh barokah. Bukan begitu kawan?

Selama kuliah Farmasi?

Masa-masa kuliahku menyenangkan. Alhamdulillah bertemu dengan kawan-kawan yang hebat. Pengalaman selama kuliah terlalu indah untuk dilupakan. Meski jadual padat dengan kuliah, praktikum maupun dikejar-kejar laporan, tapi urusan “main” tetep jalan. Ya memang bukan rahasia umum, kuliah farmasi itu berat. Kudu persiapan mental, dunia berkutat dengan kampus, lab, dan laporan. Tapi taukah kawan? Ada yang “hilang” ketika tidak lagi dikerjar-kejar laporan (*curcol).

Main bersama teman-teman

Selama study ada baiknya tidak hanya memikirkan kuliah dan laporan. Tetapi di imbangi dengan aktivitas lain, misalnya organisasi atau bergabung dengan BEM (Badan Eksekutif Mahasiswa). Mengapa demikian? Menurutku banyak sejawat apoteker yang minim kemampuan organisasi. Sehingga terlihat cerdas dalam hal intelektual namun kalah di dunia luar atau bisa dibilang jagoan kandang.

Pengalaman ku sendiri, selain aktif di BEM juga aktif di gedung pusat (kantor rektorat UGM). Dari situ relasi-relasi akan terbentuk. Yang Alhamdulillah saat ini bisa aku ambil manfaatnya. Intinya, jangan menjadi mahasiswa yang biasa-biasa saja. Kalo tidak dapat menonjol dalam hal akademis ya menonjol dalam hal lain. Misal prestasi, kalopun terpaksa tetap tidak bisa, ya tonjolkan apa yang kamu bisa (tapi dalam hal positif lho…). Misal, secara akademis saat itu termasuk biasa-biasa saja, namun aku memiliki pengetahuan tentang teknologi. Buka service komputer kecil-kecilan dengan langganan sesama mahasiswa dan kalangan dosen. Nyatanya laris manis, mengapa? Yang lain pinter dalam bidang formulasi tapi selalu kelabakan ketika komputernya terkena virus. Rejeki buat kita bukan? Dengan kemampuan yang berbeda kita pun akan memiliki added value yang berbeda dengan yang lain. Akupun jadi dekat dengan banyak dosen, ada project selalu diajak, langganan asisten dosen, dan lain-lain yang belum tentu bisa aku capai ketika berkompetisi secara akademisi saja.

Selama pendidikan profesi Apoteker

PKPA Rumah Sakit

Setengah tahun diisi kuliah teori. Berhubung nakal, kuliah teori lebih banyak aku habiskan berada diluar kota untuk mengikuti beberapa pameran. Saat itu baru semangat-semangatnya berwirausaha. Merasakan benar-benar menjadi seorang calon Apoteker saat mengikuti PKPA di Rumah Sakit dan Apotek. Saat di Rumah Sakit jelas profesi apoteker kalah dengan dokter, kenapa? Diantara profesi kesehatan lain, seorang apoteker paling jarang berinteraksi langsung dengan pasien. Jadi jangan kaget jika profesi apoteker tidak dikenal. Saat di Apotek pun jarang seorang apoteker berinteraksi dengan pasien langsung. Banyak kan apoteker yang datang ke apotek sekadar untuk tanda tangan? (*yang merasa jangan marah lho ya…ini realita….)

Memiliki gelar Apoteker

Lulus sebagai Apoteker memilih sebagai seorang wirausaha, terjun di dunia herbal dan kosmetika tradisional dengan nama Cendani SPA. Masih janggal di masyarakat, karena taunya lulus Apoteker ya kerja di Apotek atau Rumah Sakit. Padahal dunia farmasi itu luas sekali, dari dosen atau tenaga pengajar, apoteker di apotek atau RS, Dinas Kesehatan, POM, ASKES, asuransi, industri dan masih banyak lagi. Bahkan kalau kita mencermati iklan di televisi, rata-rata produk yang ditawarkan membutuhkan jasa Apoteker.

 Mengapa Apoteker tidak begitu dikenal?

Tampil di Metro TV

Menurut pendapat pribadiku. Selama ini banyak temen-temen sejawat yang kurang bangga dengan gelarnya. Jarang yang dengan membusungkan dada berkata “I’m a pharmacist…!!!“. Hahaha..kata-kata ini saya dapat dari seorang dosen saat kuliah dulu. Realitanya banyak sejawat apoteker yang kurang berinteraksi langsung dengan pasien / koleganya. (semoga dengan peraturan terbaru tidak demikian lagi).

Aku sendiri memperkenalkan dunia farmasi ke khalayak umum dengan cara yang berbeda. Setiap ada interview media cetak maupun elektronik selalu berkata, “saya seorang apoteker“. Dan nyatanya aku lebih dikenal sebagai seorang apoteker, dengan kemampuan meracik ramuan-ramuan tradisional.

Saat tampil di Metro TV pun menggembor-gemborkan bahwa aku seorang Apoteker, memiliki kemampuan meracik, mampu mengolah rempah-rempah tak berharga menjadi produk yang mahal. Dan ternyata tayangan ini di saksikan oleh masyarakat luas dan mendatangkan apresiasi yang tinggi. Bahkan banyak profesor dan dosen-dosen dari almamater yang memberikan ucapan selamat secara langsung karena cukup menginspirasi.

Akhirnya estafet award ini aku berikan kepada dua sejawat Apoteker, sahabat sekaligus sodara dengan segudang prestasi yang cukup membanggakan pula :

  1. M. Rifqi Rokhman
  2. Sarmoko
  3. Enade

Selamat berbagi cerita kawan ^^

 

Advertisements

6 thoughts on “I am a Pharmacist

  1. amitokugawa

    asik, akhirnya postingan ini rilis
    hampir sama mas, kalau aku masuk farmasi karena saran orang tua 😀 awalnya sempat agak gimana gitu karena nggak keterima di pilihan I, tapi makin dijalani makin ketemu enaknya di farmasi

    iya, semoga apoteker2 selanjutnya bisa lebih bangga dengan profesinya 😀

    wah, sayang aku nggak nonton acaranya… jarang nonton TV..hehe

    Reply
    1. kiaracondong2012 Post author

      Rata-rata anak Farmasi gt kok, karena ga keterima di profesi sebelah ^^ Hm, sama. Aku TV ajah gag punya. Asik kok jadi apoteker tuh, kalo ketemu buyer asing di hargai banget profesi kita ini ^^

      Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s