Mengejar gengsi itu ga ada habisnya

Angkringan dekat rumah

Jujur saya termasuk pecinta angkringan. Kuliner khas kota Jogja. Suka romantismenya, diskusi hangatnya, dan suasana yang merakyat. Terkadang ide-ide segar muncul dari situ. Sembari menyeruput susu jahe lahirlah Jahemix yang sekarang menjadi best seller. Berasal dari bawah tapi kini terpajang manis di Mirota Batik dan beberapa pulau di Indonesia.

Tapi image angkringan tak selalu bagus juga. Banyak yang under estimate. Gengsi karena menganggap “ga level” dengan makanan grass root. Atau beralibi bahwa angkringan itu kotor, jorok, sumber penyakit. Ya saya akui, memang ada angkringan yang seperti itu. Namun banyak juga yang bersih dan bagus, seperti postingan saya sebelumnya tentang Angkringan Cekli. Di Jogja banyak pula angkringan yang bagus seperti Angkringan Lek Man, Angkringan Lek Min, Angkringan Lombok Ijo, bahkan angkringan yang barusan saya coba tadi siang di kisaran jalan Magelang, bersih dan makanannya pun fresh.

Lho sebenarnya ini mau bahas apa?

Hahaha…sebenarnya saya tertarik dengan topik pembicaraan di BBM tadi siang. Salah satu kawan lama “menodong” saya untuk makan-makan. Yap, karena bulan Juni adalah bulan yang spesial buat saya.

Areeeeekkk….makan-makan. Pokoknya kudu Pizza!!!” Jedar…berasa meledak, kudu pizza itu yang menarik. Dulu ajah kami biasa makan di angkringan dan semuanya baik-baik saja. Bahkan sampai kenal baik dengan penjualnya. Sosok yang selalu ramah memanggil pelanggannya (mahasiswa) dengan panggilan “sayang” layaknya anak sendiri yang lapar selepas kuliah. “Mau minum apa sayang? Makan apa sayang?” sapa ramah yang selalu terngiang hingga kini.

Masa angkringan. Kamu kan udah sukses sekarang….” rajuknya. Amien…batin saya, semoga menjadi orang sukses beneran.

Emang kesuksesan diukur dengan makan-makan di pizza yah? Padahal saya mengajak ke angkringan agar bisa saling evaluasi. Saya sadari setelah lepas kuliah kami jauh. Saya konsentrasi di pengembangan bisnis dan dia mengejar impian menjadi dosen. Impian yang akhirnya berhasil dia wujudkan. Namun kawan…ada sedikit yang kurang “pas” menurut saya. Dia memilih pendamping hidup hanya karena sang calon suami memiliki “mobil” dan akhirnya berujung penyesalan.

Terkadang bosan juga mendengar keluh kesah setelah mengetahui finansial keluarga suaminya. Gaya hidup tinggi, pingin dianggap “wah”, dan semua kudu mewah. Akhirnya temanku pun terbawa, gaya hidup mewah tapi penghasilan ta mencukupi. Yang ada mengeluh…mengeluh…dan mengeluh…

Setelah punya anak pun kudu pake susu formula yang mahal. Alergi jadi alasan, padahal batinku, napa ga pake ASI ekslusif sajah? Malah gratis bukan? Hahaha….

Mengejar gengsi itu ga ada habisnya kawan. Apalagi jika pengeluaran sampe melebihi penghasilan, wah bisa gawat… So bijaklah dalam menjalani kehidupan.

Selamat ber awal pekan ^^

Advertisements

2 thoughts on “Mengejar gengsi itu ga ada habisnya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s