Mau sukses apa harus hijrah?

Sudah menjadi kebiasaan jajan sate yang lewat depan rumah untuk makan malam jika sedang enggan memasak. Cukup unik kawan, sambil memanggang sate saya selalu ajak ngobrol si pedagang. Jujur saya tertarik dengan kisah perjuangan mereka. Keuletan dan kegigihan dalam berdagang. Bahkan jika di hitung, dikampungku sudah dipenuhi oleh komunitas Madura. Dan rata-rata sukses membeli tanah, membangun rumah, dan memiliki komunitas yang solid.

Tukang Sate

Lebih hebat lagi, di ujung kampungku pun kemudian dibangun industri tusuk sate yang ternyata pemiliknya orang Madura juga. Kerjasama yang hebat! Lah…ini yang luar daerah sukses-sukses mana yang generasi muda lokal?

Usut punya usut mereka memilih bekerja di kota. Pernah saya iseng tanya kepada rekan satu desa, eh pas di Jakarta kamu kerjanya apa? Jualan mie ayam keliling, tapi sering dipalak preman terus akhirnya balik ke kampung. Ada pula yang kerja di Jakarta sebagai OB tapi ngakunya pegawai kantoran. Yap, memang kantoran si. Tapi demi gengsi jawabnya…haduh….

Pernah Idul Fitri kemaren, ketemu tetangga yang sudah beberapa lama tinggal di Jakarta. Mudik ke kampung naik APV baru. Bercerita ke tetangga jika sekarang sudah enak hidup di Jakarta, punya mobil dan lain-lain. Laaah…beberapa bulan kemudian saya mampir ke rumahnya di Jakarta. Jauh dari bayangan, sudah di kawasan banjir, sempit, bahkan untuk mobil masuk pun tak bisa. Ternyata mobil sewaan… Tapi bangga donk pulang ke kampung bawa mobil (*meski sewaan…) ^^

Sebenarnya apa si yang mereka kejar?

Saya pernah bertanya, kenapa kalo hanya jadi OB atau jualan mie ayam ga kerja di kampung saja? Membangun desa! Jawaban mereka, ga ada yang bisa di kerjakan di desa. Dan lebih lugas lagi, kan kalo kerja di ibu kota enak, meski hidup susah ga ada yang kenal, ga malu jika gagal. Taunya keluarga, kerja di Jakarta, sukses…. ^^

Ternyata hanya masalah “malu“. Jika berbicara masalah ga ada yang bisa dikerjakan“, nyatanya pendatang malah bisa menciptakan lapangan kerja disini. Diawali kontrak rumah, jualan dengan di “sunggi” di atas kepala tak berselang lama juga bisa beli tanah, bangun rumah, dan beberapa warung sate.

Bagi yang sarjanapun biasanya malu untuk tetap tinggal, alasannya ga bisa berkembang jika bertahan di kampung. Nah lho…terus kapan kampung ini akan maju? Harus hijrah katanya untuk sukses…

Yap, saya setuju dengan konsep “hijrah“, tapi hijrah mindset. Jika di kampung tidak ada peluang, kenapa kita tidak yang menciptakan peluang? Kalo di kampung tidak ada pekerjaan, kenapa tidak kita yang menciptakan lapangan pekerjaan? Menurut saya lebih mulia daripada menjual tanah demi bekerja di ibukota, tapi sekembalinya nanti sudah tidak memiliki tanah di kampung sendiri.

Kita hanya cukup untuk memenejemen rasa “malu“. Malu itu bagus, tapikan tidak malu-maluin. Malu donk dengan pendatang yang sukses-sukses…. ^^

#curahan hati terhadap kampungku ini -.-“

Advertisements

4 thoughts on “Mau sukses apa harus hijrah?

  1. amitokugawa

    wah, kita sependapat kalau yang ini mas 😀
    kalau semua orang hijrah untuk mencari peluang, trus siapa yang bakal mengembangkan potensi daerahnya sendiri?

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s