Ketika waktu terasa begitu cepat berlalu

Tak terasa sudah kembali hari Jum’at. Padahal hari Senin rasanya baru kemarin. Argh…waktu terasa begitu cepat kawan. Sms dan e-mail pun berdatangan, dari tagihan listrik, tagihan internet, tagihan CC untuk pertengahan bulan. Rasanya belum lama membayar semua, kok sudah ditagih lagi? Kandang sedikit tak percaya, apakah sudah genap sebulan?

Waktu

Terkadang setahun terasa sebulan, sebulan terasa sehari, sehari terasa satu jam. Lebih cepat dan lebih cepat lagi. Apakah sehari tak lagi 24 jam? Pernahkah kalian merasa seperti itu kawan?

Barusan saya jajan bakmi pecel di ujung gang untuk makan siang karyawan. Sedikit iseng bertanya kepada mbak penjual, “Mbak, sampeyan itu merasa waktu berjalan lebih cepat ndak to?” tanyaku singkat. “Wah iya mas, apalagi kalo punya tanggungan seperti saya. Bangun, belanja, masak, jualan gituuuu ajah…tau-tau sudah ditagih anak untuk bayar sekolah.” Wah..sedikit tenang, ternyata yang merasa waktu cepat berlalu tidak hanya saya sajah. Saya terus berfikir sepanjang perjalanan pulang.

Sampai di tempat produksi. “Mbak, sampeyan merasa waktu begitu cepat berlalu gag sih?” tanyaku pada salah satu karyawan. “Iya je mas, apalagi akhir-akhir ini. Kebutuhan makin banyak. Anak minta kuliah, makan…wah pokoke hidup kudu ubet (rajin kerja) sekarang mas.”

Wow…ada sedikit persamaan yang saya dapat, “kebutuhan“. Setelah evaluasi, saya baru ngeh merasa waktu begitu cepat berlalu setelah lepas kuliah. Ada yang berbeda dengan saya, dulu meski sedikit-sedikit bisa cari uang sendiri tapi masih ada backup dari almarhum bapak. Saya pun tidak terlalu ngoyo (memaksa) untuk cari uang. Setelah bapak meninggal waktu serasa begitu cepatnya. Di tambah setelah saya pindah rumah, pisah dengan saudara dan orang tua dan memilih hidup sendiri. Kebutuhan semakin banyak, gaji karyawan, tagihan-tagihan, hingga waktu hanya untuk mengejar materi, materi, dan materi.

Waktu luang pun sekarang bisa dibunuh dengan kehadiran media sosial, facebook atau twitter. Belum lagi kesibukan kita ber Blackberry Messenger ataupun WhatsApp, sehingga terkadang kita tidak memiliki waktu yang berkualitas untuk diri sendiri. Tidur larut malam memelototi layar smartphone, ketawa sendiri hingga terkadang tidur gelisah saat status “pending“. Bangunpun gelagapan karena harus beraktivitas rutin lagi. Begitu…begitu dan begitu saja setiap hari…

Jika boleh jujur, persepsi waktu yang bergerak begitu cepat merupakan konsekuensi dari hilangnya mengingat Alloh (zikir) dalam hati dan kesibukan kehidupan dunia menempati posisi penting dalam hati. Coba saling evaluasi diri, seberapa banyak waktu dihabiskan untuk membaca update status facebook teman di banding membaca ayat-ayat Alloh? Lebih banyak manakah me retweet tweeter teman di banding mereview hapalan Qur’an kita? Betapa galaunya kita ketika BBM kita masih “D” belum “R“, tapi kita tenang-tenang saja ketika status ibadah kita “pending“!

Ya kawan, saya pun masih seperti itu. Melalui tulisan ini, mari kita saling koreksi. Perbaiki sedikit demi sedikit. Bijaklah terhadap waktu, waktu tak dapat kita beli. Selamat merenungi… ^^

*berdasar pengalaman pribadi

Advertisements

One thought on “Ketika waktu terasa begitu cepat berlalu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s