Masih tertarik menjadi mahasiswa yang biasa-biasa saja?

Aktivitas hari ini cukup menarik. Pagi-pagi digedor-gedor pelanggan yang datang kepagian. Lah…jam kerja ajah belum mulai. Tapi gapapa, si ibu order lebih banyak. Alhamdulillah…nikmatnya diberi kesempatan bekerja dari rumah. Bulan ini serbuk instan daun sirsak banyak membawa barokah….

Wait, tapi jam sudah menunjuk jam 9 kawan. Si ibu belum juga pulang, padahal harus menjadi “business reviewer” di kampus. Wah…terpaksa sedikit tidak profesional. “Mas, saya datang terlambat 30 menit” bunyi pesan singkat yang saya kirim kepada panitia. Eh lha…sampai lokasi ternyata pesertanya yang telat. Saya harus menunggu kurang lebih setengah jam. Untung saya juga telat. Kalo kejadian kaya gini biasanya langsung bilang deh…Indonesia…Indonesia…hahaha ^^

Menikmati ES PK bersama kawan

Diskusi bisnis berjaan lancar. Berhubung lokasi berada di “mantan” kampus sendiri, saya banyak gunakan sebagai ajang silaturahim. Bertemu kawan-kawan lama yang sekarang menempuh study lanjut. Wah bangga rasanya… Mas Eky owner Herbanesia yang punya teori “bentuk tubuh mengikuti omzet” (ngakak saya pas mendengarnya, bilang ajah pembelaan kalo sekarang gendut). Bertemu juga mas Moko yang terkenal dengan blognya yang inspiratif. Mas Rifqi yang jadi dosen idaman mahasiswa…hahaha… (denger-denger ya…tapi ini bukan M. Rifqi Rokhman ^^) Bertemu profesor-profesor (rajin amat yak, ini kan weekend), gank perpus (segerombolan staff perpustakaan yang gokil) …ahh…indahnya persaudaraan. Saat hendak pulang pun masih di “cegat” anak BEM, diminta menjadi pembicara lagi untuk 2 minggu kedepan. OK, done! Saya langsung pamit karena sudah janjian dengan sohib saya. Makan diangkringan… ^^

Waktu menunggu jemputan saya manfaatkan untuk mampir di pos satpam. Tempat favorit saya untuk “mangkal” jaman mahasiswa, tempat yang biasa di pandang sebelah mata karena penuh dengan komunitas grass root. Tapi saya menyukainya, ya saya menyukai diskusi-diskusi hangatnya. Pak Mardi yang sudah begitu hapal dengan saya menceritakan perubahan-perubahan yang ada. Semua sudah begitu berkembang, sudut-sudut kampus yang bisa dipantau dengan kamera CCTV (wuih eloknya…) hingga mahasiswa-mahasiswa S1 yang memenuhi parkiran dengan mobilnya. What? Mobil? Lah…jaman saya dulu mana ada? Terus uang bulannya berapa yah? Hahaha…

Dikskusi berakhir dengan datangnya kawan terbaik saya. “Yuk, langsung cabut. Angkringan depan BCA“. Wah tapi betapa terkejutnya kami kawan. Angkringan tutup di akhir pekan. Rupanya mengikuti hari kerja kantor nih (hebat sekali yah…). Dengan berat hati menuju opsi kedua, Tahu gimbal depan BPD (ini bukan iklan bank lho ya…). Lagi-lagi kami dibuat kecewa…saat hendak parkir penjaganya berkata, “Maaf mas sudah habis. Mas kalo kesini sebelum jam 1, karena jam segini pasti sudah habis…“. Apah? Betapa terkejutnya saya. Dua tempat yang saya tuju tadi hanya warung dipinggir jalan lho, berbekal tenda dan kursi plastik, tapi tengah hari sudah habis. Subhanalloh….limpahan rezeki kepada mereka. Cukup setengah hari kerja, padahal banyak yang bekerja sehari penuh dan masih mengeluh-mengeluh seperti postingan saya sebelumnya.

Akhirnya pilihan jatuh jajan bakso dan es buah di ES PK. Itupun kami dibuat shock. Jualan di trotoar jalan, berbekal gerobak dan tenda, tapi tempat duduk pun tak kunjung kami dapatkan. Subhanalloh…terus omzetnya sehari berapa. Setelah menunggu sejenak dapat pula duduk lesehan beratapkan langit beralaskan tikar. Obrolan mengalir dari saling tukar kabar pribadi hingga membahas kampus (maklum dia sekarang menjadi dosen di almamater).

Wah mahasiswa Farmasi sekarang gaya hidupnya tinggi, Rek. Ga ada yang kaya kita dulu...” Topik menarik nih buat mengisi seminar 2 minggu kedepan. “Udah begitu, waktunya habis buat kuliah sama praktikum ajah…” Pantas saja mereka kurang mengenal dunia luar. Terdidik untuk menjadi pekerja pekerja dan pekerja… Takut IPK nya jatuh dan tidak bisa bekerja di tempat yang layak. Sekarang coba di cermati, jika semua mahasiswa IPK nya bagus terus buat pembedanya apa? Susah juga kan? Tentu akan dilihat kelebihan lainnya…

Dan jikapun saya mau mencermati. Justru kawan-kawan seangkatan dulu yang IPK-nya selangit, bekerja maupun finansialnya saat ini biasa-biasa ajah. Bahkan ada yang IPK-nya jauh lebih tinggi  bilang sama kawan saya, “Lho kamu malah jadi dosen to?” Padahal kawan saya ini “ndableg“-nya setengah mati. Tiap malam ujian malah ngajakin ke rental CD cari mp3 baru, kalo ndak ya malah ngerjain proyek. Kalo ndak ya maen ke rektorat buat cari proyekan. Lah…justru ini nilai jual dia, punya koneksi yang kuat. Hingga saat melamar untuk masuk menjadi dosen mudah, mengalahkan yang IPK-nya lebih tinggi… ^^

So, masih tertarik untuk menjadi mahasiswa yang biasa-biasa saja? Kenapa kita tidak menjadi yang “luar biasa’?

Selamat berakhir pekan kawan ^^

Advertisements

4 thoughts on “Masih tertarik menjadi mahasiswa yang biasa-biasa saja?

  1. adjie

    hahaha seperti flashback…dulu aku juga persisssss…sampe begadang hingga adzan subuh menjelang demi belajar dan mencari temen

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s