Pensiun di mata mereka

Memilih jalan hidup sebagai entrepreneur terkadang membutuhkan komunitas yang selalu memantabkan hati kita. Ibarat bahan bakar agar semangat tetap menyala. Memicu untuk selalu naik kelas dan sebagai penyangga ketika terjatuh. Sharing-sharing pengalaman dan perjalanan kehidupan. Dan saat ini pun saya ingin berbagi, meminjam pengalaman untuk menguatkan hati kawan-kawan pengusaha muda…

***

Suatu hari ditahun 2010 saya berkesempatan bertemu dengan para anggota golf senior disebuah Club House di pinggiran kota Jakarta yang sangat indah, sebuah Golf club yang memiliki lobby lounge yang sangat mewah, hadir masa itu dalam sebuah pertandingan untuk para senior (dalam Usia diatas 55 tahun) yang kebanyakan dari mereka adalah alumni ITB angkatan 60-67 lulusnya. Cukup senior mereka yang rata-rata berumur 65 tahunan.

Pada saat selesai pertandingandan selesai ganti pakaian santai, setelah setengah harian menikmati permainan olah raga golf, mereka bercengkrama beristirahat sambil bercerita banyak hal. Hubungan pertemanan mereka sudah melalui periode lebih dari 40 tahun, sungguh senang melihat dan mendengar cerita-cerita mereka. Dalam sejarah hidup masing-masing dari yang hadir saat itu cukup beragam kebanyakan adalah pejabat tinggi Pertamina, PN Gas, Krakatau Steel, dunia perminyakan asing dan sejenisnya dengan jabatan akhir setelah sebelum memasuki masa pensiun seluruhnya cukup tinggi bahkan direktur utama pun ada. Guratan wajah tua mereka menceritakan pengalaman hidup yang cukup keras.

Beberapa diantara mereka saat itu berkisar 35 orang ada sekitar 3 orang yang merintis karir sebagai pegawai di awalnya kemudian berwirausaha membangun bisnis sendiri di luar mereka yang bekerja sebagai pegawai. Secara pribadi saya mengenali separuh dari mereka lebih dari 10 tahun, baik ketika membangun relasi bisnis selagi mereka menjabat atau hubungan pertemanan antara saya dengan anak-anak mereka, ada yang anaknya teman sekolah ada yang mitra kerja. Sangat nyaman saya berada di lingkungan tersebut.

Alasan lain adalah membuktikan teori bahwa seorang entreprenuer biasanya punya jiwa lebih matang-mature dan memiliki kebijaksanaan lebih dari pada mantan pegawai terutama pejabat tinggi. Ini bukan mengecilkan apa yang mereka telah jalani diri sebagai pegawai tetapi ada pendapat bahwa faktor kedewasaan dan kematangan spiritul dapat lebih cepat dilalui dengan menjadi seorang entrepreneur.

Saya tahu itu bukan esensial tapi rasanya hanya faktor empirik saja. Saya mempelajari banyak subyek yang menarik dari teman-teman yang membaktikan dirinya sebagai pegawai namun juga sangat matang dalam spiritualitas, mengerti dan memahami banyak hikmah seperti mereka yang berkarir dalam bidang pendidikan atau para guru, tentara militer, orang-orang lapangan dalam bidang konstruksi dan masih banyak lagi. Sedangkan yang saat ini saya bicarakan adalah pejabat tinggi sahabat-sahabat baik saya, yang saya sangat hormati dan saya kenal.

Seorang dari mereka menyapa saya kemudian bertanya, “apa yang sedang di observasi kali ini dik?” . “mohon izin, saya memerlukan bapak-bapak dalam banyak hal, salah satunya adalah opini bapak tentang sindrom pegawai di masa pensiun,” jawab saya.

Banyak dari mereka yang menghentikan kegiatan mereka ketika kalimat saya selesai seperti ada yang sedang berbicara, makan atau memperbaiki tali sepatu, mereka semua berpaling menatap saya dengan tajam. Rupanya pernyataan barusan agak mengena atau menohok buat semua yang hadir dan saya sangat merasa bersalah, bahkan saya menduga mereka akan tersinggung atau marah.

“Tolong jelaskan lebih rinci lagi,” tanya seorang bapak.

“Saya mempunyai pemahaman dan saya ingin pemahanan ini memiliki bukti yang kuat, pak,”saya mengawali penjelasan. “Saya merasa ada perbedaan seorang entrepreneur di mana mereka adalah orang yang tidak pernah pensiun dengan seorang mantan pegawai tinggi yang suatu saat ada waktu berhenti atau menghadapi pensiun dimana mereka pada saat seperti kira-kira berumur seperti bapak-bapak sekarang yang berada di ruang ini, kedua pihak antara mantan pegawai dan wirausahawan memiliki perbedaan penampilan atau mungkin itu yang disebut dengan aura barangkali ya pak, “aku menjelaskan sembari mencari pertolongan penjelasan yang lebih mengena. “Aura mereka yang berwirausaha lebih terang sedangkan mereka yang pensiunan tak ada aktifitas auranya agak memudar”, jelas saya lagi.

Ruangan hening ketika saya bercerita hingga membuat saya merasa tidak nyaman . “Teruskan cerita anda mas”, sambut yang lain.

“Saya merasa mereka yang berbisnis mempunyai keadaan mental yang lebih mantap sehingga terpancar kemantapan itu dalam sorot mata mereka sementara mereka yang mantan pegawai ada kekosongan pada saat pensiun,” saya menjelaskan dengan perasaan gundah karena saya memang tak berniat untuk menyinggung perasaan siapapun namun harus mengungkapkan sesuatu yang menurut saya benar dengan pas.

“Rodo edan iki arek (agak gila anak ini)”, kata seorang bapak asal jawa timur, dengan logat suroboyoan yang kental. “Begini dik”, katanya lagi, “saya itu pensiun 4 tahun yang lalu ketika berumur 60 tahun, sejak saat itu saya memang tidak mengerjakan banyak hal, hanya olah raga pagi, baca koran, cari-cari buku ke toko buku. Hari-hari saya lewati begitu saja, anak-anak dan cucu-cucu di kota lain yang tinggal diJakartapun sibuk hingga jarang ketemu, aku hidup dengan istri dan 4 pembantu plus sopir. Jadi jika aura saya agak memudar saya percaya itu dik, lha wong memang aku tidak punya ambisi lagi, Cuma menikmati hidup di hari tua saja”. Jelasnya kemudian.

“Apa bapak sungguh-sungguh menikmatinya?” Tanya saya lagi.

” Sebenarnya saya bosan dan bingung juga sih”, kata seorang bapak memotong pembicaraan kami. “Saya itu semua punya, tapi merasa kayak tidak berguna. Saya kalau menelpon itu mereka bertiga (sambil menunjuk 3 pengusaha teman seangkatan mereka) rasanya ngiri melihat kesibukan bisnis mereka. Saya merasa mereka lebih bisa memanfaatkan ilmu mereka,” katanya lagi.

Pembicaran kemudian melebar dan banyak yang mulai terbuka menyatakan kesepian mereka mengisi hari-hari, agaknya suasana sudah cair sementara banyak yang bercerita seakan hilang tujuan hidupnya dan hanya dengan ber golf mingguan seperti ini lah mereka bisa melepas penat dan bersantai namun 6 hari setelah itu kerutinan yang membosankan terjadi.

Seorang bapak yang paling senior angkat bicara, “saya mantan direktur utama yang mungkin secara materi paling berduit, tapi mungkin saya yang paling bingung mau ngapain hari-hari dilewati. Dulu saya bermimipi ingin punya uang banyak, dimana sekarang semua itu terjadi tapi saya tidak memiliki teman yang banyak untuk menikmati harta tersebut, sungguh tidak enak rasanya. Kalau aura kami tidak ajeg menurut pendapat mu, saya tidak protes dan tidak keberatan. Untuk berwirausaha saya jujur saja , saya ternyata tidak berani, Kalau sebagai pegawai khan tidak ada yang namanya cari duit yang ada cuma minta anggaran, datang dari mana anggaran tersebut ya tidak tahu, pokoke tinggal minta, sebagai wirausaha semua harus dipikiri sendiri. Jadi otak dan pikiran seorang entrepreneur itu bekerja terus sehingga itu mungkin yang membuat aura mereka lebih mantap sekarang, sedangkan otak saya sudah jarang dipakai,” katanya berapi-api, sebuah kepolosan yang saya sangat hargai dari sang bapak yang memperbolehkan mencerita hidupnya namun meminta tidak mengizinkan menyebut namanya dan perusahaan dia bekerja dahulu. Sebutkan saja BUMN tertua dan terbesar.

Ujung dari diskusi tersebut saya rekam selama 2 jam. Sejarah kecil kehidupan ke 35 sahabat tersebut saya catat seluruh pendapatnya, seluruh perjalanan mencari rezeki hidup mereka, tentang sindrom pegawai, tentang pahit manis sebagai pengusaha dll. Semua akan ada dalam tulisan berikut.

True story : Mardigu WP
Advertisements

2 thoughts on “Pensiun di mata mereka

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s