Lebih berani mati

Ada yang menarik selepas tarawih malam ini. Check inbox ada 1 sms dari ade angkatan semasa kuliah dulu di Farmasi. Mungkin sudah lebih dari dua tahun tidak komunikasi secara intens. Saya sibuk membesarkan usaha dan dia sibuk menyelesaikan kuliah.

Gimana usahamu mas? Banyak kendalakah?

Wew, awal sapa yang kurang memiliki energi positif menurutku. Kendala…yap, rada heran juga si kenapa ga tanya kabarku dulu hiks hiks… Hm tapi ta apalah, ternyata itu adalah gambaran dari dirinya. Setelah lulus belum juga menemukan pekerjaan yang bagus, usaha juga ga berkembang, nemu hambatan-hambatan hingga menganggap orang lain seperti dirinya juga. Sayang juga lho padahal dia tu pinter sak pole, summa cumlaude kayanya malahan…hedew…

Intinya apa si? Hm setelah beberapa kali saling balas sms tersirat dia sedikit meratapi perekonomian dia yang tak kunjung membaik. Masih itu-itu saja, padahal status tak lagi mahasiswa… Nah lho… Pingin kaya, pingin punya pendapatan lebih, tapi sudahkah kita memantaskan diri?

Gimana Alloh mau memberi rejeki yang lebih saat saya tanya “udah coba cari kerja?” jawabnya “Ibu pengen aku jadi PNS mas, tapi aku malas…” Ketika aku kejar lagi “Atau mau wirausaha?” jawabnya “Tapi kan wirausaha itu 5 tahun awal bakal berat…” Lho belum di coba…. Gimana rejeki mau datang kalo tidak ada usaha.

Lain cerita teman yang kerja di industri.

“Mas, hidupku monoton nih. Pabriiii….kkkk…terus…hasil juga cuman cukup buat beli beras”

“Lha maunya gimana?”

“Kan kebutuhan makin besar seiring waktu. Pinginnya pendapatan bertambah donk”

“Lha dah nemu caranya belum?”

“Udah sih, kalo aku berdagang…”

“Nah udah nemu caranya. Tinggal jalanin ajah kan?

“Takut…!!!”

Yah…… kata TAKUT itu adalah penyakitnya. Mau berdagang, suruh nawarin produknya ke konsumen takut… Mau dapat proyek suruh presentasi takut… Mau dapet gaji lebih tinggi suruh resign takut… Minta gaji naik sama boss takut… Suruh ini itu…takut… Lha…gimana mau mendekatkan rezeki yang lebih baik kalo apa-apa takut. Padahal itu untuk “HIDUP“…

Kontras sekali kalo Ngerokok? Berani! Takut dibilang banci. Kebut-kebutan? Berani! Biar dibilang lelaki sejati. Padahal kan itu malah mendekatkan pada kata “MATI

So, beranikah kita move on untuk rezeki yang lebih baik?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s