Kemudahan akan datang

Tak terasa sudah satu setengah tahun lebih saya meninggalkan rumah. Meninggalkan segala fasilitas dan ketergantungan. Saat itu saya berada pada posisi paling terpuruk. Dikhianati rekan bisnis hingga rugi lumayan banyak, beberapa poyek gagal dan harus membayar beberapa kerugian. Masih ditambah beberapa fitnah yang menerjang, hingga akhirnya saya memilih menyingkir. Kontrak rumah sederhana dan berbekal uang 2 juta ditangan.

Mengawali hidup benar-benar sendiri memang berat, hanya berpijak pada 2 kaki. Tiap malam menatap eternit, angan-angan jauh menembus dunia khayalan. Ah, kadang tetap gundah… “Besok saya makan apa?!!” Terkadang malam berjalan begitu panjang karena mata tak kunjung terpejam…

Belum ketika hujan dan angin menerpa. Genteng-genteng bocor dan rembesan air yang masuk menghiasi malam pertama di kontrakan. Sungguh indah ketika mengenangnya…

Berbekal relasi bisnis sebelumnya saya mencoba bertahan. Mengangkat 1 orang pegawai, membeli mesin produksi, mencoba apa yang saya bisa. Mencoba peruntungan di bidang kecantikan tradisional. Masih sangat jelas di ingatan, saat orang-orang ramai membakar uang mereka dengan rentetan kembang api di tahun baru, saya sibuk menyiapkan racikan-racikan untuk saya jual.

Januari 2011…

Pertama saya mengibarkan bendera “Cendani SPA”. Semua dikerjakan dengan sangat sederhana. Saya sendiri yang memetik daun-daun sirih di kebun tetangga, “blusukan” antar desa mencari daun pandan, ke pasar membeli dan menggotong beras. Bahkan lembur hingga larut tengah malam mensortasi bahan-bahan basah.

Simbah (nenek) sederhana pemilik kebun sirih di awal usaha

Saat pagi-pagi selepas subuh menyalakan mesin penepung untuk menggiling beras. Sebagian saya sisakan untuk menanak nasi sarapan. Dan saya pun masih ingat menu sarapan setiap hari, tahu seharga 5 ribu dapat 13 biji yang biasa saya belah menjadi dua kemudian goreng untuk makan beberapa hari. Sungguh ini benar-benar saya alami, terkadang tak terasa air mata menitik ketika mengingatnya kembali. Tapi ada yang saya kagumi, saya bisa bekerja dengan iklhas dan sepenuh hati.

Alhamdulillah…di awal bulan mendapatkan hasil penjualan yang bagus. Sedikit demi sedikit saya memperbaiki fasilitas produksi. Menambah rak-rak pengering, membangun gazebo kecil untuk berteduh sambil menunggu jemuran rempah-rempah. Saya mulai menambah tenaga ibu-ibu rumah tangga untuk membantu kerja. Yang mulanya semua saya kerjakan sendiri mulai ada yang mewakili. Saya lebih fokus untuk meningkatkan penjualan…

Gazebo kecil tempat berteduh

Jemuran rempah

Dalam hal produksi pun sudah mulai saya serahkan kepada karyawan. Saya tidak menggiling beras sendiri lagi. Hanya saja, untuk mendapatkan beras saya masih harus tetap blusukan ke pasar. Sementara di kontrakan karyawan mengerjakan hal-hal lain. Terkadang mereka mengajak anak-anak mereka karena memang mayoritas adalah ibu rumah tangga. Tapi malah menjadi asik, kontrakan menjadi riuh oleh suara anak-anak bermain dihalaman. Sementara ibu mereka bekerja…

Menunggui ibu bekerja

Bekerja sambil mengawasi anak

Ada yang asik dari semua. Begitu senangnya melihat mereka, bekerja sekaligus menjalankan fungsi sebagai ibu rumah tangga. Saya bebaskan mereka untuk masuk kerja. Selesaikan urusan rumah tangga dulu baru masuk kerja, saat menjemput anak sekolah pun saya kasih jeda break. Tapi asal dengan ketentuan, target produksi harian tercapai. Terkadang atas kesadaran sendiri karena target harian belum tercapai, dengan sendirinya mereka berinisiatif lembur. Bahkan terkadang mengajak suami mereka untuk membantu bekerja.

Suasana lembur

Mengajak suami untuk ikut kerja

September 2011

Bersama teman-teman SMA saya di percaya untuk mewujudkan Hoshizora Education Center (HEC). Sebuah NGO dimana menyalurkan beasiswa bagi yang kurang beruntung. Sebuah tantangan yang berat kawan. Saya seorang Apoteker tapi ditantang untuk merancang sebuah bangunan. Ah, terlalu nekat saya bilang… Tapi salah satu sahabat terbaik saya selalu meyakinkan, “kamu pasti bisa…!” Kalimat yang mesugesti alam bawah sadar saya.

HEC sebelum pembangunan

Sungguh berat pembangunan HEC ini, selain dana yang tebatas juga masalah waktu pengerjaan yang teramat singkat. Disamping itu saya harus mengikuti pelatihan internet marketing yang dibiayai oleh seorang senior pengusaha. Alhasil saya mengangkat 2 orang manager. Satu untuk mengawasi pembangunan HEC dan satu lagi untuk mengawasi produksi material spa saya. Tiga proyek berjalan bersamaan. Alhamdulillah semua dapat berjalan berdampingan, gedung HEC mampu berdiri megah dan bisnis tetap berjalan.

Peresmian gedung HEC

Oktober 2011

Alhamdulillah, saat itu saya memenangkan sebuah kompetisi wirausaha nasional. Berikut penghargaan dari sebuah majalah marketing terkenal di Asia Tenggara sebagai salah satu dari 100 Pemuda Paling Berpengaruh di Indonesia tahun 2011. Sungguh sebuah anugerah yang tak terduga. Begitu bersyukurnya saya.

Aktivitas menjadi padat, bolak-balik antar kota, dari hotel satu ke hotel lain, menjadi pembicara dimana-mana, dari kampus satu ke kampus lain, press converance, hingga sekadar melakukan shooting untuk stasiun televisi swasta. Berkenalan dengan tokoh-tokoh hebat hingga saya ditawari untuk bergabung dengan Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI).

Bersama ponakan shooting program televisi swasta

September 2011

Alhamdulillah, untuk pertama kali saya bisa membeli tanah dengan hasil jerih payah saya sendiri. Begitu bangga rasanya, saya yang bukan apa-apa tiba-tiba memiliki sesuatu. Yang belum bisa dilakukan oleh pemuda seusia saya di tanah kelahiran tercinta. Kemudian dengan sedikit tabungan saya beli rumah kayu kecil, rumah yang dulu begitu saya idam-idamkan.

Sebidang tanah yang saya beli

Rumah kayu saat pembangunan

Januari 2012

Setahun saya meninggalkan rumah. Begitu banyak cerita di hasilkan. Usaha yang berjalan, sebidang tanah, rumah kayu meski mungil. Dan segenap kebanggaan. Alhamdulillah Alloh memberikan begitu banyak kemudahan.

“Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan, sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan (QS. 94:5-6)”

Tulisan ini saya tulis, bukan untuk membanggakan diri. Namun sebagai penyemangat bagi teman-teman yang saat ini sedang dirundung kesusahan, sungguh sesungguhnya setelah kesulitan itu ada kemudahan. Sekaligus sebagai evaluasi diri bagi diri saya sendiri untuk lebih baik di tahun 2012. Selamat berkarya kawan ^^

*catatan evaluasi tengah tahun
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s