Perjalanan

Stasiun Tugu Yogyakarta

Apa yang saya sukai dari sebuah perjalanan?! Tentu bertemu dengan orang-orang baru dengan beragam latar belakang. Dari abdi negara, pegawai swasta, profesional, mahasiswa, maupun pengusaha. Mereka masing-masing punya cerita yang bisa kita ambil hikmahnya, bahkan tidak menutup kemungkinan berlanjut ke arah kerjasama. Begitu pula lawatan terakhir saya ke Bandung di awal Ramadhan lalu.

Berangkat dari stasiun kota (Bandung) menuju Yogyakarta dengan memilih kereta Lodaya eksekutif, ada beberapa pertimbangan. Bukan karena gengsi, tapi beberapa pengalaman sebelumnya dengan naik kereta yang sama dapet beberapa teman perjalanan hebat. Konsultan pertambangan sekaligus guest lecturer universitas ternama di Jogja & Bandung, pengusaha ritel besar di Solo, bahkan kontraktor pembangunan beberapa gedung di universitas tercinta, Gadjah Mada. Dari mereka saya gali pengalaman-pengalaman yang tentunya untuk memperkaya khasanah keilmuan saya.

Untuk perjalanan kali ini cukup menarik, tiba di stasiun sudah cukup telat, kereta sudah siap-siap untuk berangkat. Masuk kedalam gerbong dengan tergesa-gesa. Sambil mencari-cari nomor tempat duduk mata tertarik dengan charting candle stick di monitor laptop.

Permisi, bisa saya tempati bangku sebelah?” sapa pembukaan saya.

Silahkan mas….” Sahut beliau, sementara saya sibuk dengan beberapa barang bawaan yang kemudian saya taruh atas. Memposisikan diri dalam kondisi yang nyaman sambil mengeluarkan power bank untuk di charge sepanjang perjalanan (*nasib krisis energi gara-gara gadget…-.-“)

Sudah lama mainan commodities?” sapa saya. “Baru saja mas…baru kisaran 3 bulan…

Pembicaraan mengalir hangat. Beliau bercerita mengalami lost hingga USD 25.000,- Wew angka yang cukup besar bagi saya. Otak bisnis segera bekerja, ga ada salahnya nih sedikit unjuk kemampuan analisa teknikal. Berbekal sedikit kemampuan tentang candle stick, indikator-indikator saya share pengalaman kepada beliau. It works. Kayanya beliau tertarik dengan kemampuan saya. Pembicaraan pun semakin hangat hingga akhirnya tukeran pin BB dan business card.

Seminggu kemudian…

Mas, jadi maen ke District…” sapa singkat di Blackberry Messenger. Disctrict adalah nama cafe milik beliau di bilangan Seturan. Kawasan yang cukup padat dengan aktivitas mahasiswa dan kuliner. “Siyap, otw…” balas saya. dan begitu terkesimanya saya, hm maju juga usahanya. Bisnis cafe 24 jam di kawasan mahasiswa yang notabene butuh tempat tongkrongan.

Makan malam di District

Dari situ saya mengenal lebih jauh tentang beliau. Ternyata tidak hanya bisnis cafe, namun juga kuliner dan perhotelan. Wow.. Saatnya show off untuk menarik perhatian. Dan benar, dari 3 kali pertemuan teryata beliau sedang menjajaki saya untuk bermitra bisnis. Tampak dari diskusi-diskusi beliau yang mengarah ke portofolio bisnis saya.

Ok mas, gimana kalo kita kerjasama saja?” tawar beliau. Hehehe kata-kata yang memang saya tunggu. Sedikit jual mahal donk dengan tawar menawar nilai lot bisnis dan bagi hasil kedepan. Hehehe…semoga berjalan lancar dan barokah^^

Semangat beraktivitas kawan ^^

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s