Kaya harus “siap” kaya

Masih dalam episode silaturahim lebaran. H+3 kemaren diajak salah satu sahabat pengusaha muda untuk makan siang. Ya sekaligus silaturahim dan maaf-maafan. Meluncur berdua ke arah utara Jogja mencoba kuliner baru khas menu sambal. Berhubung lama tak bertemu, begitu banyak yang di ceritakan. Dari bisnis, aktivitas selama Ramadhan, hingga success story kawan-kawan.

Siapa yang ga senang mendengar cerita kawan-kawan yang telah sukses. Omzet yang nembus nilai sekian sekian..beli rumah…bangun tanah dan bla bla bla… Wait?! Benarkah senang mendengarnya? Ternyata ga selalu lho… Success story bisa menjadi pisau bermata dua. Dapat  menjadi inspirasi jika diceritakan secara tepat kepada orang yang tepat dan oleh orang yang tepat. Namun akan justru menyakiti hati dan membuat orang lain iri / dengki jika di sampaikan secara kurang tepat.

Singkat cerita, kawan saya tadi sedikit tersakiti salah satu rekan pengusaha pula yang drastis berubah. Kalo saya bilang sindrom OKB (Orang Kaya Baru….cieee) Sebenarnya salut juga atas perjuangannya, di usia relatif muda, berangkat dari nol bisa sesukses itu secara finansial. Mengapa saya bilang secara finansial? Karena menurut saya belum sukses dalam memanage hati. Eh kok hati ya…pokoknya dalam menjaga perasaan oranglah…jadi malah mengarah sombong dan menganggap orang lain lebih rendah.

Ketika berkumpul sering bilang, “Eh, kalo si A kan mobilnya cuman rental. Kalo aku kan bisa beli sendiri, cash, ga kredit….” Dilain kesempatan, “Ga level ya aku BBM-an ama dia, omzetku lebih gedhe dari dia...” Atau kesempatan lain “Kalo si T kan nyumbang sekian, untung waktu itu aku bawa duit segepok, ta suruh ambil sendiri gt, terus si A cuman melongo karena ga punya uang...”

Naudzubillah… Terkadang ada prasangka juga ketika berkumpul dengan dia. Saat bersama saya dia bilang kejelekan atau kelemahan si A, si T, si C, apalagi si D. Jangan-jangan saat berkumpul dengan mereka, justru menjelek-jelek-an saya. Hahahaha…nah lho. Astaghfirulloh justru saya yang negative think-think duluan…

Kalo saya menjadi yang dijelek-jelekin tentu akan sakit hati bukan? Apalagi jika di banding-bandingkan secara finansial. Tentu itu hal yang tabu. Kecuali itu dalam ranah profesional seperti release daftar orang terkaya versi FORBES. Lha ini, baru level lokalan je… Pantas saja banyak yang sakit hati.

Kontras sekali dengan beberapa orang sukses yang menurut saya sudah siap atau pantas untuk sukses. Dengan rendah hati mereka bercerita success story sehingga menginspirasi. “Mas, saya mengawali dari nol. Usaha itu bukan hanya di fikirkan, diceritakan, namun juga di esekusi…” ujar salah satu miliarder tetangga saya. Tak perlu di ceritakan kalo beliau bisa membeli tanah sekian hektar secara cash ataupun kredit. Namun orang sudah tau kesuksesan beliau. Tau-tau tanah di sana sudah menjadi SHM beliau…dilain tempat lagi menjadi SHM pula… Apalagi perlu di banding-bandingkan….

So, di akhir tulisan…. Kesuksesan itu juga butuh kesiapan. Untuk kaya harus “siap” kaya…. Firman Alloh SWT :

وَلَا تُصَعِّرْ خَدَّكَ لِلنَّاسِ وَلَا تَمْشِ فِي الْأَرْضِ مَرَحًا إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ كُلَّ مُخْتَالٍ فَخُورٍ

Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri” (QS. Lukman: 18).”

Selamat kembali beraktivitas kawan ^^

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s