Percobaan dalam Hidup

Sejak akhir bulan Ramadhan saya mengalami “konflik pribadi” yang hebat. Gejolak batin dan logika. Omzet tidak menembus angka yang aman untuk memberikan gaji & THR karyawan, jumlah uang tak tertagih yang cukup besar sehingga mengancam cashflow, kebocoran pos-pos keuangan, dan diperparah oleh beberapa raw materials produk andalan saya yang dinyatakan “discontinue” oleh supllier. Hasilnya apa? Saya harus memeras otak untuk mencari substitusi bahan secara mendadak dan akhirnya menuai protes dari pelanggan karena produk tidak memuaskan.

Saya sangat menyalahkan keadaan saat itu. Temperamen dan selalu dalam kondisi cemas. Cemas tidak bisa membayar kuwajiban bulanan, gaji, dan tentunya THR. Akhirnya saya bekerja hampir 24 jam, sering saya pulang menjelang sahur dengan menjadi konsultan bisnis online sebuah cafe di bilangan Seturan. Meninggalkan taraweh dan tadarus bersama karena berbenturan dengan aktivitas di kota. Bahkan memalukan target khatam pun tak tercapai. Ya bisa dibilang, kualitas ibadah Ramadhan saya berantakan. Termasuk kualitas kesehatan, kebanyakan begadang dan minum kopi menaikkan tensi darah saya tentunya, hingga untuk berfikir logic sangat sulit. Yang ada emosi dan perasaan tertekan.

Bekerja 24 jam penuh ternyata tidak mampu menyokong perekonomian saya. Bekerja keras tidak berkolerasi dengan pendapatan. Semakin lama jam kerja tidak sebanding dengan jumlah uang yang saya peroleh. Tentu teori ini hanya berlaku bagi para “pekerja” yang upahnya meningkat seiring jam lembur. Bagi saya? Memang meningkat, tapi kecil sekali. Bukan seperti matematika bekerja 8 jam saya mendapat 300 ribu sehari kemudian bekerja 24 jam saya mendapat  900 ribu sehari! Tapi justru ada pengurangan karena beberapa hari kemudian fisik saya drop dan harus mengkonsumi obat-obatan.

Kembali saya mengalami konflik batin, jumlah jam kerja tidak sebanding dengan pendapatan. Kemudian apa? Tentu ada faktor yang terlewatkan. Saya memutuskan untuk mematikan semua handphone dan gadget sejak 2 hari menjelang hari raya. Saya rogoh uang pribadi untuk menutup kekurangan gajian dan THR karyawan (tidak sehat memang, tapi ini harus saya lakukan). Lebih banyak mengurung diri di kamar. Merenung dan lebih banyak membaca, aktivitas keluar hampir bisa dipastikan hanya dua, pertama belanja keperluan makan atau ke masjid yang tak seberapa jauhnya dari rumah. Setiap hari pintu saya tutup, terkadang jendelapun tak saya buka. Dalam kondisi tenang dan sendiri logis mulai bekerja. Bahkan pemikiran-pemikiran “nakal” bermunculan. Saya desain rancangan penelitian hidup yang belum pernah saya ujikan sepanjang karir di lab penelitian, yaitu :

“Dapatkah saya bertahan hidup tanpa bekerja?”

atau secara matematis saya ingin menguji rumus berikut :

R = T x E

dimana R = Result / Hasil ; T = Time / Jam Kerja ; dan E = Earnings / Pendapatan

Percobaan saya bagi menjadi 3 kelompok, pertama saya bekerja selama 24 jam dan sudah saya lakukan. Kedua saya bekerja selama 8 jam seperti biasa. Dan ketiga adalah saya tidak akan bekerja, atau 0 (nol).

Percobaan ini saya lakukan selama seminggu selepas lebaran. Semua gadget saya matikan, usaha juga saya liburkan. Hidup hanya saya jalani dengan ibadah, belajar (membaca), dan bertahan di kamar. Dan paling extreme saya memutuskan untuk tidak memasak maupun jajan makanan. Kemudian apa hasilnya?

  1. Teman-teman dari luar kota yang sedang mudik berdatangan ke rumah karena saya tidak dapat dihubungi by phone. Kemudian mengajak saya makan ke luar sebagai ajang bukti kesuksesan mereka.
  2. Makanan datang dengan sendirinya karena tetangga sedang hajadan / syukuran.
  3. Bahkan uang datang sendiri saat seorang ibu-ibu dari luar pulau mencari produk spa di Jogja dan menemukan rumah saya. Memborong sisa stock lebaran.

Ah, berarti ketika T = 0 (nol) dalam artian saya tidak bekerja pun saya tetap mampu mendapatkan rezeki, saya dapat betahan hidup, dan saya masih mampu mendapatkan uang. Hasil atau rezeki, kita tidak dapat mengaturnya. Rezeki tidak linier. Ada faktor lain diluar kuasa kita yang mengendalikan. Sebagaimana tubuh, saat kita tergores pisau kemudian berdarah, otak tidak dapat memerintahkan darah agar berhenti mengalir. Namun secara alami trombosit akan pecah kemudian mengeluarkan trombokinase dan vitamin K, dengan adanya ion Ca+ akan menghasilkan protrombin yang kemudian berubah menjadi fibrinogen hingga fibrin yang akan menutup luka. Dapatkah kita mengendalikannya seraya berteriak “Hey darah, membekulah!” Jawabannnya : TIDAK!

Begitu pula dengan kehidupan, rezeki di bawah kendali Sang Pengatur. Tinggal bagaimana kita mendekati rezeki tersebut. Jika kita jauh dari Sang Pengatur, gimana kita mau dekat dengan rezeki itu?! Jemput rezeki dengan mendekatkan diri kepada Sang Pemberi disertai ikhtiar. Sapa waktu dengan bijak, bagi diantaranya untuk ibadah, bekerja, dan istirahat. Ingat, waktu tidak berkolerasi linear dengan apa yang kita hasilkan. Dan satu kalimat sindiran bagi saya sendiri.

“Jangan tunda-tunda ibadah! Mau jika rezekimu juga ditunda?!”

#Sukses selalu menyertai kita ^^

Advertisements

5 thoughts on “Percobaan dalam Hidup

  1. yunita

    nice sharing mas aree…jadi inget pas kemaren temu alumni FMIPA ada yg sharing, seringkali kita merasa mempunyai kemampuan yg infinite di hadapan Tuhan yang 1, padahal 1 dibagi infinite adalah 0 alias g dapet apa-apa. Tapi kalau kita merasa kemampuan kita 0 di hadapan Tuhan yang 1, maka yang kita peroleh adalah infinite alias kita bisa dapet sesuatu yg luar biasa :)..

    Reply
  2. tuti

    Hmm keren2.. Ampe proses pembentukan fibrinogen n fibrin dibawa2, apotoker bener ini ceritanya, hehe..
    Emang bener rejeki itu hitungannya bukan matematis, sesuatu yg ilogical bs terjadi. Hampir mirip pengalamannya, cm kna sy bkn pengusaha mungkin tdk seekstrim ini. Seperti janji Allah dlm salah satu ayatNya, jika kita selamatkan agamaNya maka Dia akan memberikan pertolonganNya dari arah yg tdk di duga2.. Konteks ayat ini jk di deskripsikan mk termasuk selamatkan dg menjalankan perintahNya dan hati2 jgn sampai mengabaikannya.. So, bersama2 memang kita sdh seharusnya saling mengingatkan tolong menolong dlm berbuat kebaikan, termasuk postingan ini.. 😀

    Reply
    1. kiaracondong2012 Post author

      InsyaAlloh saling mengingatkan. Bener jabaran sampeyan. Ya banggakan jadi Apoteker, sampe diselip-selipin gt… ^^ Suka kata-kata “saling mengingatkan tolong menolong dlm berbuat kebaikan…”

      Reply
  3. Pingback: Prasangka « Counting Down

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s