Cerita Angkringan

Pagi-pagi saya bergegas menuju Kota Gedhe. Yup, pusat kerajinan perak yang dahulu kesohor sebagai ibu kota Mataram jaman pemerintahan Panembahan Senopati, cikal bakal kerajaan di Jogja saat ini. Bukan hendak pesan perhiasan, tapi mengantar pesenan ratus rebus yang seharusnya saya antar kemaren. Karena proses produksi yang sedikit molor, saya baru bisa antarkan hari ini.

Menyusuri pasar Kota Gedhe di hari pasaran Legi (nama hari Jawa), cukup menyita waktu. Meski membawa motor, jalanan tetap merayap. Namanya juga pasar tradisional. Berderet-deret jajan pasar menghiasi sisi jalan, jual klepon, dawet, dan makanan warna warni….suasana riuh yang khas…menghadirkan romantisme tersendiri. Ya itulah yang tak ditemukan di mall-mall besar…nuansa ngangeni nya…

Lepas dari keriuhan pasar motor saya tepat berhenti di sebuah toko samping pasar, terpampang nama besar “Dewi Silver”. Mbak saya sudah di depan toko, pesan singkat saya melalui Blackberry Messenger. Cukup lama saya menunggu, tanda centang kecil dan huruf “D” di layar tak kunjung berubah menjadi “R”, tanda bahwa pesan telah terbaca. Akhirnya saya masuk ke toko dan menemui mbak-mbak penjaga.

Ada yang bisa saya bantu, Mas? Sapa ramah penjaga toko. Hendak ketemu mbak Reyna. Oh ini mas Ari ya? Maaf mbak Reyna tadi dadakan keluar. Tapi sudah menitipkan ini, sambil menjulurkan sejumlah uang. Segera saya serahkan sekardus ratus rebus. Terima kasih, mbak. Basa-basi singkat. Saya langsung ngeloyor menghampiri sepeda motor yang saya parkir di pinggir jalan. Tanpa pikir panjang saya langsung mecari jalan lain untuk menghindari kemacetan pasar.

Mendekati batas kota Bantul perut terasa lapar. Maklum sejak pagi belum sarapan, baru terisi segelas susu yang memang menjadi minuman wajib pagi hari. Melihat angkringan langganan yang kini terlihat bersih menimbulkan minat untuk mampir, sekadar memesan es teh dan sebungkus nasi kucing. Monggo mas, mau minuma apa? Kok lama ndak mampir? Sapa hangatnya. Saya amati memang banyak yang berubah, menu lebih lengkap dan tenda baru. Lengkap dengan foto penjual mengenakan peci menggenggam segelas minuman dengan branding sebuah produk kopi terkenal. Wah, kayanya baru ketiban rejeki dapat sponsor nih si penjual Angkringan batin saya.

Sampun mas. Nasi satu, gorengan dua, sama es teh. Nggih mas, total Rp. 4500. Segera saya juluarkan lembaran 5.000 an. Alhamdulillah…..ucap syukur penjual dengan senyum khas. Deg! Jantung serasa berhenti berdetak. Ada sesuatu yang kontras dengan kejadian sebelumnya. Rasa syukur yang  tulus atas limpahan rezeki. Saya? Menerima pembayaran yang nilainya berkali kali lipat hanya diam saja. Langsung saja mengeloyor pergi… Duh! Betapa tidak bersyukurnya saya ini.

Dan memang, Alloh akan menambah nikmat bagi mereka yang pandai bersyukur. Selepas saya menerima uang kembalian, sekitar 20-an rombongan anak muda usia SMA menghampiri angkringan. Saya rasa mereka baru saja selesai bermain futsal karena masih mengenakan atribut dan sepatu bola. Rasa lapar dan lelah sehabis olah raga memaksa mereka memesan makanan dan minuman lebih banyak. Rezeki bagi penjual angkringan….

Kawan, sudahkah kita berucap syukur atas nikmat yang diberikan kepada kita? Dari hal-hal paling sepele, dari udara yang kita hirup…dari air yang kita minum?!

Alhamdulillah…atas segala yang Engkau berikan….

#sukses bersama kita

Gambar : kompasiana

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s