Rindu Perjalanan

Pemandangan dari Kereta Argo Lawu

Setelah sedikit jenuh dengan parade proposal, akhirnya dapat pula melepas lelah keluar kota. Tentu bukan tanpa tujuan, tapi memenuhi undangan lokakarya dari pihak British Council di daerah Depok, Jawa Barat. Terbayang landscape pegunungan & bentangan permadani hijau sawah membuat rasa rindu untuk naik kereta. Kita mungkin terbiasa dengan pesawat terbang, bus antar kota, bahkan mobil, tapi kereta api tentu meninggalakn romantisme tersendiri. Suara peluit panjang dan hentakan-hentakan khas suara kereta. Selalu menghadirkan kerinduan akan perjalanan….

PT. KAI memang sedang berbenah, masuk peron sudah layaknya masuk bandara. Menunjukkan tiket dan KTP, tapi yang bikin kaget. Harganya itu lho. Duh! Sekarang kok mahal amat ya. Kadang malah lebih murah pesawat. Tapi ya kangennya sama kereta, masak naik pesawat. ^^

Pukul 08.56 tepat Kereta Argo Lawu memasuki Stasiun Tugu, Yogyakarta. Bergegas saya berdiri dipinggiran jalur 5. Menghitung satu persatu gerbong. Ah gerbong 5, seat 5D. Nah lho…tapi kok sudah ada yang menempati. Dua orang wanita bule paruh baya. Dengan ramah menanyakan apakah saya keberatan jika bertukar tempat duduk. Berhubung saya ramah, dan ingin menunjukkan sebagai tuan rumah yang baik. Saya persilahkan. Tapi….

Ya. Tapi….saya duduk di seat 5B. Notabene tidak berada di samping jendela. Dan samping saya adalah balita umur 1,5 tahun. Perfect, bakal kacau liburan saya dipenuhi dengan suara tangis bayi yang rewel. Tapi saya buang jauh-jauh prasangka itu. Mencoba berfikiran positif. Kasihan juga si balita, duduk disamping orang tinggi, hitam, dan seram seperti saya. Hehehe…anak kecil biasanya takut melihat saya. Tunggu dulu, apakah saya paling menyeramkan? Lah ternyata ayahnya si balita lebih menyeramkan. Hahaha… tinggi, besar, rambut panjang, plus muka preman lagi. Bisa ga bayangin sesutau yang lebih menyeramkan daripada saya? ^^

Tampang menyeramkan tidak mutlak menandakan hatinya pun hitam. Cukup ramah juga ternyata, meski saya lupa namanya, saya inget beliau bercerita bahwa bekerja sebagai wartawan salah satu televisi swasta nasional di bilangan Senayan. Datang ke Jogja untuk mengantar sang istri study lanjut S2 di Universitas Gadjah Mada. Wow, great!

Nah yang jadi masalah adalah si kecil. Baru 1,5 tahun sudah ditinggal ibundanya belajar di luar kota. Sepanjang perjalanan bertanya pada sang ayah dengan dua kata yang memang baru bisa diucapkan. Mama….mama…. Siapa yang tidak miris coba. Saya tanya, terus kalau di tinggal liputan si dede’ tinggal sama siapa? Ya ada pengasuhnya di rumah. Duh! Cerminan keluarga sekarang. Ayah bekerja, bunda bekerja, anak????

Saya terlahir dari keluarga yang sederhana, plus beranak banyak. Saya sendiri nomor 6. Tentunya adalah hal wajar bahwa bapak saya (almarhum) dan ibu saya bekerja. Sejak kecil saya terbiasa dititipkan. Waktu lebih banyak saya habiskan bersama pengasuh-pengasuh saya hingga dewasa. Apa yang terjadi?! Saya tumbuh dengan kadar respect sangat rendah kepada orang tua. Seperti tidak ada ikatan. Ini kisah nyata, saya tidak mengada-ada. Puncaknya saat saya menginjak kelas 5 SD, saya kabur dari rumah karena tidak akur dengan orang tua. Mengerikan sekali bukan?!

to be continue….

#sukses menyertai kita

Advertisements

One thought on “Rindu Perjalanan

  1. Pingback: Day 1 : Ciganjur « Counting Down

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s