Day 1 : Ciganjur

Kereta mengular memasuki ibu kota, perlahan meninggalkan Bekasi. Beberapa penumpang sibuk menurunkan tas dan oleh-oleh, persiapan turun di stasiun Jatinegara. Saya termenung memandang keluar jendela, hujan gerimis. Mengingatkan bahwa 15 tahun lalu, saat saya kabur dari rumah, hujan turun membasahi bumi.

Anak kecil adu argumen dengan orang tuanya. Duh! Betapa kelamnya saya di masa lalu. Ya, saya selalu iri dengan teman-teman sepermainan yang bisa menikmati hari-hari bersama orang tuanya. Saya? Bersama tetangga, pengasuh, dan jauh dari mereka… Berlari dari rumah pikiran saya hanya satu, mengadu pada pengasuh…

Lamunan buyar ketika Argo Lawu tiba pukul 17. 15 di stasiun Gambir. Sedikit terlambat dari waktu yang dijadualkan. Bergegas ambil tas dan sekardus oleh-oleh. Hehehe bukan kebiasaan membawa oleh-oleh. Tapi memang sudah lebih dari setahun saya tidak mengunjungi kakak tertua di bilangan Ciganjur.

Re, agendamu apa? Mau ta jemput ga? Pesan singkat dari seorang sahabat karib sewaktu kuliah di Jogja, si Joe. Nama populer yang lebih melegenda daripada namanya sendiri. Padahal Joe adalah singkatan dari Jombang, tanah kelahiran dia. Lucu jika mengingatnya. Ya selama ini Joe menjadi salah satu kawan terbaik, selalu menyempatkan waktu ketika saya berkunjung ke ibu kota. Semenjak masih mengendarai Honda Grand plat “S”, hingga berubah wujud menjadi beroda empat dengan label Grand Livina. Sungguh Alloh membayar kontan atas perjuangan dan kesederhanaan Joe di masa lalu.

Tapi aku jemputnya habis Maghrib yah, what?? Habis Maghrib itu dari daerah Puri Beta, Ciledug. Pikiran saya langsung membayangkan  rute yang panjang. Bisa sampe malam nih sampai Gambir. Fiuh…tapi tak apalah. Penting dapat tumpangan gratis. Pikiran langsung melayang ke sebuah restoran cepat saji khas masakan Jepang di lantai 2 stasiun Gambir. Entah mengapa, setiap berkereta menuju jakarta, selalu menyempatkan diri makan di tempat ini dengan menu paket yang sama, paket C. Seperti berkata, nih saya sudah di Jakarta

Tak hanya stasiun Tugu di Jogja, stasiun Gambir pun banyak berbenah. Setidaknya sangat jauh berbeda dengan saat saya berada di tempat ini sebelumnya. Deretan penjaja makanan modern dengan balutan nama Coffee pun semarak menambah kemeriahan stasiun. Semakin memanjakan pelancong yang hendak menunggu jemputan atau pun jam keberangkatan kereta.

Pukul 19.26, si Joe belum mucul. Hanya penampakan pesan singkat. Re, kejebak macet di Senayan. Tunggu ya. Duh! Bakal tambah lama nih. Membuka laptop, kemudian blogging menulis cerita sebelumnya.

Sejam kemudian si Joe baru tiba, bersama istri tercinta yang ternyata sudah mengandung 8 bulan. Wow, what a surprise! Menambah deretan kawan lama yang sebentar lagi memiliki baby. Hanya tersenyum kecut, saya masih sendiri. Hahaha…semoga tahun depan lah. Aamiin.

Bertiga meluncur ke Selatan arah Ragunan. Eh kok ya ritual tetap sama, makan makanan cepat saji milik Kolonel Sanders. Entah sejak kapan ritual ini berlangsung. Tapi setiap ketemu si Joe, pasti mampir di restoran ini, entah itu di Jogja maupun Jakarta. Alasannya kalo hari-hari biasa ga boleh makan junk food kaya begini. Dasar dia… Jam 23.30 saya baru diantar ke Ciganjur. Lah sudah hampir tengah malam ya….

Thank you mas Joe…

#sukses menyertai kita

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s