Kembali Hijrah

Tahun baru hijriyah telah lewat beberapa hari. Sudah sejauh mana kita ikut hijrah untuk menjadi sosok yang lebih baik? Pertanyaan kecil ini mengusik saya sejak beberapa waktu lalu. Sederet target dan impian saya tulis rapih dalam buku catatan. Terkadang melongok, kembali membaca, kemudian kelebatan-kelebatan langkah hebat melayang di pikiran. Tapi…ya tapi…terlalu banyak excuse yang sebenarnya berasal dari diri saya sendiri hingga menghambat untuk “move on”.

Menjadi lebih baik. Itu target saya kedepan, entah secara finansial, bisnis, pergaulan, maupun yang paling penting “spiritual“. Secara finansial bertambah lagi satu “nol” dibelakang earningku tiap bulan, secara bisnis ingin memiliki bisnis yang selalu berkembang, secara pergaulan menjadi pribadi yang bersahaja, santun, dan banyak teman, maupun secara spiritual terkait kualitas ibadah saya. Memang di sini tidak saya tulis secara spesifik, namun itu menjadi detail-detail yang indah dalam buku impian…

Hijrah selalu menjadi tonggak perubahan hidup saya. Dua tahun lalu saya hijrah meninggalkan zona nyaman, meninggalkan rumah pemberian orang tua yang notabene mengecilkan semangat untuk berjuang. Mengapa demikian? Bangun pagi selalu tersedia makanan dan minuman, makan siang selalu tersedia, hingga makan malampun tersaji rapih dimeja. Tinggal saya menjalani hidup, ada maupun tiada uang saya merasa aman. Tapi kehidupan seperti itu tidak memberikan pembelajaran bagi saya, saya tidak tumbuh, apalagi berkembang…

Tepat dua tahun lalu saya memutuskan hijrah. Mengontrak rumah kecil dan benar-benar hidup sendiri. Sungguh diluar bayangan saya sebelumnya. Semua terasa berat di awal. Tapi dari situ saya belajar mandiri, bertanggung jawab, berproses, dan terus tumbuh. Belajar memulai usaha yang sedikitpun tak terlintas di benak saya, belajar bertahan hidup, dan belajar memahami kehidupan.

Dua tahun berlalu kembali saya mengalami titik jenuh. Beberapa bulan belakangan saya merasa hanya berjalan ditempat dalam segala hal. Kembali wacana hijrah saya kumandangkan. Berharap lingkungan baru dan suasana baru lebih memacu adrenalin saya dalam bekerja dan berkreativitas. Saya ingin maju, saya ingin berkembang, bermetamorfosis menjadi sosok tangguh tanpa meninggalkan nilai-nilai kebaikan. Bagaimanapun yang terdekat adalah masa depan dan masa depan adalah buah dari hasil yang kita tanam sekarang.

Melalui tulisan ini, saya deklarasikan ke-HIJRAH-an saya. Baik fisik maupun dari bayang-bayang masa lalu yang senantiasa menghambat. Yang memenuhi sisi subconsciuos otak, memenuhi alam bawah sadar. Yang ada adalah masa depan cerah dimana saya akan melangkah…

#sukses menyertai kita

Advertisements

One thought on “Kembali Hijrah

  1. Pingback: Cerita Hujan « Counting Down

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s