Eksotisme Dlingo

edit

Suasana rapat di Dlingo

Besok mohon temen-temen di dampingi ya mas…”, sepenggal pembicaraan suatu sore bersama mas Yuli, seorang kawan yang menurut saya sangat bersahaja. Apa pasal? Seukuran mas Yuli yang notabene pengusaha muda dibidang meubel kemana-mana naik motor sederhana itu sangat menakjubkan. Hal yang mudah baginya dengan omzet sekian-sekian untuk mengendarai mobil seri terbaru sekalipun. Ya tapi memang, kawan-kawan selalu penuh kejutan. Dan penampilan itu masalah pilihan, mau perlente atau tetep bersahaja ya monggo saja…

Sedikit yang menonjol dari mas Yuli saat ini yaitu phablet terbaru di genggaman. Ya memang kawan-kawan sekarang mulai migrasi setelah layanan Blackberry Messenger kurang bisa diharapkan untuk kepentingan bisnis. Berbondong-bondong menggenggan Galaxy Note II atau phablet pintar lainnya yang memang mendukung untuk usaha. Bukan untuk gaya, tapi memang suatu kebutuhan pokok terkait portabilitas kerja.

Pukul 4 sore mas Mas Yuli menjemput saya di Bale Ayu, rumah makan khas seafood favorite saya di bilangan Jogja Selatan. Menjadi kebiasaan memang untuk sekadar rapat atau menjamu kolega. Tempatnya cukup representatifve untuk kegiatan. Termasuk sore itu, bersama kawan-kawan lembaga mengadakan rapat yang menjadi agenda bulanan. Tapi namanya memimpin lembaga yang anggotanya para pengusaha, orang nomor satu di perusahaannya masing-masing, para pemegang pimpinan puncak. Tentu membutuhkan kesabaran dan kepiawaian yang extra, rapat yang diagendakan selesai jam 5 sore, ternyata hingga adzan Maghrib mengumandang belum juga usai. Mas Yuli saya persilahkan untuk menunggu.

Badan langsung lemez, agenda setelah rapat lembaga adalah memenuhi undangan mas Yuli untuk memberikan arahan kepada teman-teman pengrajin di seputaran Dlingo. Gimana nggak lemez? Dlingo terletak dipuncak pegunungan seribu yang membujur di Timur kota Jogja. Tentu butuh perjuangan berat untuk menjangkaunya, terbayang jalan khas pegunungan nan gelap kiri kanan hutan dan tepian jurang yang tentunya sangat berbahaya untuk di tempuh ketika matahari tenggelam. Dan lebih menariknya lagi, kami akan menjangkaunya dengan motor sendiri-sendiri, tentu saya sedikit pun tak menguasai medan. Wow, adrenalin bakal tumpah ruah sepanjang jalan batin saya.

Kembali ke rapat, akhirnya rapat break sejenak untuk ibadah. Kemudian lanjut setengah jam dan memang menghasilkan keputusan yang kurang sempurna. Begitu banyak kepentingan, jadi saya putuskan untuk dilanjutkan di pertemuan bulan depan. Jika dituruti, semalaman bisa begadang. Darah muda masih sering bergejolak, ide-ide super kreatif sering keluar. Harus punya trik khusus tentunya…

Dan saatnya untuk petualangan sejati. Tepat 18.30 bertiga meninggalkan Bale Ayu. Lho kok bertiga? Sengaja saya ajak kawan pengusaha dari Tulungagung untuk ikut menikmati. Setidaknya ada teman untuk ngobrol sepanjang perjalanan yang menegangkan. Hihihi…benar saja, meninggalkan jalan Imogiri Timur sudah memasuki daerah tengah sawah yang gelap. Merinding saja, jika ini akan tetap gelap hingga mencapai lokasi.

Motor mas Yuli mepet ke saya, mas berhenti dulu ya di depan. Heran menggelayut di pikiran saya. Apa pasal, ternyata adzan mengumandang, dan mas Yuli mengarahkan kami ke sebuah mesjid nan bersih di tepian sawah. Subhanalloh…masih ada manusia berhati mulia, lebih heran lagi Aji, pengusaha pentol dari Tulungagung yang saya bonceng itu juga mengeluarkan sarung dan peci dari dalam tas. Lah lah…hebat hebat ternyata teman saya. Malu -.-” Saya sendiri belum seperti itu, denger adzan ya cuek ajah. Sholat ntar kalo sudah sampe rumah. Aish…salah satu rahasia kesuksesan bisnis mereka ternyata.

Lepas sholat kembali meluncur ke arah timur menembus pekatnya malam. Jalan mulai terasa naik, tapi tak segelap semula. Kiri kanan rumah-rumah bagus, jauh dari bayangan saya sebelumnya. Ternyata Dlingo telah berbenah. Semakin naik perjalanan semakin menantang, memang sesekali menerobos hutan. Namun perjalanan tak terasa menegangkan. Sesekali padangan menyapu ke hamparan kota Yogyakarta dari atas, Subhanalloh…..sungguh indah dengan gemerlap lampu kotanya….

edit-2

Suasana Jogja dari atas

Hampir satu jam perjalanan tak begitu terasa. Sambutan hangat kami terima kerika memasuki workshop dimana kawan-kawan dari Dlingo berkumpul. Menurut hitungan jari saya, ada sekitar 25 pengrajin. Angka yang cukup dari angka yang saya ajukan sebelumnya. Daun-daun pintu hasil karya mereka berjajar rapih. Belakangan saya baru tahu, ternyata daun pintu itu wujud “pasokan” untuk arisan yang mereka selenggarakan. What? Arisan daun pintu? Terus mereka gotong dari rumah masing-masing menuju lokasi? Sesuatu yang jauh dari pikiran saya.

Tapi begitulah mereka. Saya merasakan begitu hangat kehidupan mereka. Lugu, ngajeni, dan segala kearifan lokal. Bahkan jika saya bilang, mereka belum terkontaminasi kehidupan yang semakin tak bermoral. Dan suatu kehormatan bagi saya, untuk mendampingi mereka untuk mengembangkan usaha ke arah lebih baik. Tentu saya akan banyak berada di lokasi ini ^^

#peace upon us ^^

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s