Biaya Hidup atau Gaya Hidup

gaya hidup

Parade kegiatan di Jakarta telah usai, meninggalkan sejuta kenangan yang renyah dan mak nyus untuk di kenang. Sepekan berkumpul dengan orang-orang hebat dalam balutan Social Enterprise dari segala penjuru Indonesia sungguh menjadi pengalaman tak terlupakan. Hal yang sebelumnya tak pernah saya sangka, masih banyak pelaku wirausaha sosial yang tidak hanya memikirkan kesuksesan pribadi.  Namun sukses secara berjamaah itu lebih indah…

Ada yang menarik selama sepekan tinggal di ibu kota. Pihak panitia menyediakan hotel di kawasan Kemang, kawasan elit kaum expatriate dengan segala gaya hidup gemerlap. Kehidupan malam, cafe, atau tempat hiburan lain dengan suguhan live music yang mempesona. Uang mengalir deras untuk memenuhi gaya hidup urban, aish….sungguh miris untuk dikenang. Kebocoran finansial pun bak air bah yang menjebolkan dinding tabungan namun terasa begitu halus tanpa terasa. Gamang antara kebutuhan atau sekadar gaya…

“Yang mahal itu bukan biaya hidup, namun gaya hidup…”

Sebulan yang lalu saya melakukan perjalanan yang sama. Berada di ibu kota dari arah Depok  menuju Senayan untuk memenuhi undangan kolega. Empat jam lebih saya habiskan di jalan, sungguh waktu yang sangat tidak efisien. Apa pasal? Demo buruh sedang marak. Jalanan macet total. Keinginan menaikkan upah buruh dengan angka cukup fantastis, saya pun miris jika harus menaikkan pada angka itu. Apalagi untuk industri padat karya seperti saya. Tentu imbasnya pada membuang beban muatan alias PHK… Keputusan ini akan memberikan dampak buruk bagi buruh sendiri.

Tuntutan buruh yang tinggi itu sebenarnya berbicara masalah “biaya hidup” atau “gaya hidup“. Karena saya alami sendiri itu menjadi bias. Ketika saya berada di Jogja, biaya hidup saya hanya berkisar sandang, pangan, papan…namun ketika berbicara di Jakarta, biaya hidup saya bertambah lagi, hiburan… Dan batas limit kontrol saya menjadi lebih kedodoran. Misal ketika berada di Jogja, mengeluarkan uang IDR 20.000,- seperti sudah ada rem, banyak sekali yang saya keluarkan. Ketika di Jakarta? Mengeluarkan IDR 200.000,- yang notabene nilainya 10 x lipat adalah hal wajar. Dan rem itu serasa blong…lepas kendali…

Biaya hidup yang notabene bagi saya adalah gaya hidup adalah kebiasaan temen-temen di ibu kota untuk menghabiskan akhir pekan di mall atau tempat hiburan lain. Setiap bertemu kawan atau kolega lebih banyak bilang…udah ketemu di mall ajah, nanti kita bisa sambil makan-makan. Ketika saya tanyakan kepada meraka, ya emang itu wajar berakhir pekan mencari hiburan. Jadi ya wajar gaji bulanan jadi sangat kurang-kurang…

Lain cerita dengan saudara saya yang tinggal di Ciganjur, Jakarta Selatan. Dengan beban 3 anak yang masing-masing masih sekolah saya tanyakan pengeluaran harian plus uang sekolah rata-rata sehari berapa? Di bilang maksimal 50 ribu sehari. Masak sendiri dan tidak terlalu mementingkan berakhir pekan di mall. Nyatanya kehidupan berjalan normal. Di dukung dengan tetangga kiri kanan yang masih bagus, saling memberi jika ada makanan yang berlebih. Misal tetangga barusan pulang kampung, ywd berbagi oleh-oleh. tetangga masaknya sedikit lebih banyak, ya di bagi. Hidup lebih indah dan harmonis… Sekali lagi, yang mahal itu bukan biaya hidup, namun gaya hidup. Tinggal bagaimana kita akan menyikapinya…

#peace upon us ^^

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s