Sate Klathak

sate klathak

sate klathak

Sepulang dari Jakarta beberapa waktu lalu saya memang lebih banyak menyendiri di kamar. Berada di penghujung tahun tanpa progress berarti membuat saya sedikit hopeless. Hal yang tak sewajarnya berada di diri saya. Jika berbicara masalah bipolar, maka saya berada pada fase depresi. Begitu banyak masalah bersliweran dan semua harus di tanggung sendiri. Adalah hal wajar dalam kondisi seperti ini berbagi dengan teman-teman sesama pengusaha. But mereka sedang banyak event pameran di luar kota. Alhasil saya sendiri berada di Jogja. Mencoba kontak teman-teman via BBM pun mereka sibuk, menyelesaikan kuwajiban akhir tahunan. Ya sudah…toh biasanya juga sendiri bukan? Pemahaman bahwa “saya sendiri” itulah yang justru men-drive saya semakin terpuruk. Pikiran-pikiran negative menjadi sekat kreativitas.

Kembali ke ketukan pintu. Jam menunjuk pukul 20.00 malam, adalah tidak wajar bagi saya menerima tamu malam-malam kecuali orang-orang yang memang dekat dengan saya. Apalagi tanpa janjian terlebih dahulu. Pintu tetep saya bukakan. Hmm..muncul sosok tinggi besar yang familiar. Blom tidur Re…sapa ramah Mas Bowo. Pengusaha exportir furniture serta aneka craft tetangga desa. Dari mas Bowo saya banyak belajar berdagang, beliau salah satu guru bisnis yang mengajarkan banyak hal, terutama kehidupan. Mas Bowo mengajari saya dengan kegagalan dia, bukan dari ribuan kisah sukses penuh bumbu di seminar-seminar.

Sejak krisis ekonomi melanda Eropa bisnis Mas Bowo memang berasa jalan di tempat. Gudang besar yang biasanya penuh dengan furniture lebih banyak kosong. Dulu hampir sebulan sekali kiriman container 40 ft selalu menghampiri. Namun dari catatan invoice yang saya buat, kini terkadang 3 – 6 bulan sekali baru stuffing. Wew…imbas yang sangat terasa. Terasa juga bagi saya yang kadang memperoleh cipratan dari mengurus dokumen-dokumen exportnya.

Tapi bukan itu yang mau saya bahas kawan. Tapi semangat survival Mas Bowo. Meski kondisi pasar Eropa memburuk, Mas Bowo tak juga kehilangan akal. Eh, Re…inget gag sama owner pecel Cabean? Kemaren dia cerita jenuh dengan bisnisnya, sekian lama di jalani gag juga kunjung berkembang. Dia basisnya furniture dan kayu seperti aku, jadi kurang telaten dengan masakan-masakan. Nah ada ide baru, tapi ini butuh dirimu. Karena cuman kamu kuncinya. Mau gak joinan bikin rumah makan?

Sontak adrenalin menggelegak. Tantangan baru, memang menjadi impian selama ini untuk mengembangkan rumah makan. Meski cowok, saya sangat doyan memasak. Ini tak lepas dari hobi saya yang suka makan. Sementara selama ini memang menunggu angel investor karena membuat rumah makan yang representative memang dibutuhkan modal yang lumayan. Tapi jika diangkat bertiga, bukan mimpi lagi untuk bisa di wujudkan…

Oke, besok ta coba nego. Biar dia sedia tempat, kalo operasional biar ta handle. Kamu jatah masakan sama bahan baku, kan masmu punya peternakannya. Dan ini memang bidang kamu, so aku yakin kita bisa bersaing dengan Pak Pong, leader rumah makan khas sate klathak di kota tempat saya tinggal. Idenya memang cukup sederhana, merubah rumah makan khas pecel menjadi rumah makan khas daging domba. Hal yang familiar sejak saya lahir karena almarhum bapak berbisnis tak jauh dari bidang itu. Semoga segera menjadi kenyataan…

#peace upon us

Advertisements

One thought on “Sate Klathak

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s