Cerita Kemang

8262482609_88572f6903_h

Ojo dumeh, ojo gumunan, ojo kagetan….kurang lebih begitu nasehat almarhum bapak semasa hidup. Tapi namanya orang kampung, blusukan ke kota besar sekelas Jakarta ya tetep “gumun” (heran_red). Gedung kok tinggi-tinggi, terus gimana cara bangunnya… hadoh kalo dirasa pikiran ini terkadang tidak sampe. Tapi itu urusan para insinyur, toh hidup ini wang sinawang kalo orang Jawa bilang. Insinyur itu juga pasti keheran-heranan melihat orang seperti saya. Minyak goreng ta kasih NaOH kok bisa jadi sabun…hahahaha… ^^

Memasuki kawasan Kemang membuat saya lebih heran lagi, apalagi untuk pertama kali stay. Kok kayanya di sini semua orang happy. Hidup buat seneng-seneng terus, mau cari live music banyak, makan enak banyak, cewek-cewek cantik betebaran di mana-mana. Hadoh…cocok ini buat temen-temen yang suka open bottle. Kepala terasa cumleng dengan istilah-istilah dunia gemerlap ini… Duh!

Wait! Tapi misiku ke Kemang bukan untuk hal ini yah. Bermodalkan GPS dengan PD nya melalang Jakarta. Ya dasar wong ndeso, dah di jelaskan pihak penyelenggara kalo acara di pindah ke Fave Hotel dari Swiss Bell Hotel, masih ajah ngotot bilang kalo acarnya di Five Hotel. Hahaha..jadi ada yang kebingungan, get direction selalu ajah error gara-gara salah keyword pointing lokasi. Sepele, seharusnya “a” ditulis “i’, seharusnya “fave” jadi “five”. Ya jelas ga ketemu… ^^ Malu kalo ingat itu…

Masuk hotel langsung di sambut brother Andre dari Komunitas Kapuk yang sekaligus juragan lele. Belakangan baru tahu kalo beliau itu orang paling berpengaruh di RT nya. Ya jelas, Pak RT…dan lebih membanggakan lagi, sejarah karir beliau di ukir sejak usia 20 tahun. Boleh jadi ketua RT paling muda nih. Tapi bisa diambil hikmahnya, yang muda juga bisa berprestasi, yang muda juga bisa jadi leader di masyarakat. Bukan begitu kawan?!

Lho Pak RT kok ikut kompetisi? Lha wong namanya ajah Community Enterprise Challange, jelas di ikuti penggerak-penggerak komunitas donk. Orang-orang hebat di lingkungannya, orang-orang yang masih peduli dan “care” terhadap sesama. Kalo bisa sukses itu bukan untuk pribadi sajah, tapi sukses bisa berjama’ah. Itu kurang lebih visi teman-teman semua. Itu baru ketua RT, detik-detik sekembalinya saya ke Jogja. Baru tahu kalo Pak Gofar yang selalu tereak-tereak “freedom” ternyata menjabat sebagai lurah desa di Banyuwangi sana. Hadooh….dan baru tahu orang yang selalu mengikuti di belakang pak Gofar adalah sekretaris desa atau “carik” kalo di kampung saya. Jabatan yang sangat elite di tanah Jawa. Tapi sungguh mulia hati Pak Lurah, misi beliau ke Jakarta untuk memperjuangkan nasib petani padi di Banyuwangi sana. Hidup Pak Lurah!

Belum cukup dengan lurah, ada juga peneliti hebat dari LIPI yang meperjuangkan biodiversity di Cagar Biosfer Cibodas. Jelas memiliki otak encer dengan segala ketangguhannya. Jika di pikir-pikir 20 besar merupakan orang-orang pilihan. Sikap “gumunan” saya kembali muncul. Ternyata masih banyak orang-orang hebat di luar sana yang peduli dengan permasalahan lingkungan dan sosial. Diantara hiruk pikuk Kemang dengan segala gemerlapnya, berkumpul 20 komunitas penggerak kemajuan bangsa. Siapakah mereka? Simak ditulisan saya selanjutnya.

bersambung…. Cerita Kemang 2

#peace upon us

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s