Anak nakal, siapa salah?

anak nakal

Sementara yang lain memasang ucapan di status BB atau facebook yang belum tentu di baca, saya lebih memilih merayakan hari ibu dengan candle light dinner. Ya, hanya berdua. Toh selama dua puluh tujuh tahun sekalipun saya belum pernah melakukannya. Ada sepercik haru di wajah ibu yang mulai senja, usia mendekati 70 semakin menegaskan rapuhnya beliau. Apalagi “sepi” selalu menghinggapi. Anak-anak jauh dan cucu-cucu yang sibuk dengan sekolah dan kuliah. Sementara bapak tercinta sudah tiga tahun mendahului kami. Maafkan anakmu ini ibuku…

Candle light adalah hal yang tak lazim bagi ibu. Ya namanya sedari dulu orang sederhana, kalo candle light di depan tungku emang iyah. Itupun jaman perjuangan ^^ Sambil nggodog (rebus) kacang atau ubi menjadi suguhan yang nikmat diantara dinginnya malam ^^ Sementara anak-anak mengelilingi dengan segala gelak tawa. Wuih kangen keluargaku yang utuh, kini dipisahkan jarak dan problematikanya…

Tapi bukan tentang itu yang hendak saya bahas kawan. Tapi kekhusyuk-an candle light kami yang terusik. Apa pasal? Setengah jam setelah kami datang, kembali hadir serombongan kecil keluarga muda yang boleh jadi merayakan hal yang sama. Sekitar bersembilan memesan meja panjang di sisi meja kami. Diantara bersembilan itu terdapat tiga anak kecil yang kemungkinan anak mereka. Sepintas kurang lebih sih masih duduk di bangku taman kanak-kanak dan sekolah dasar. Dua putera dan satu puteri…

Sejak mereka datang saya sendiri mulai terasa terusik. Ributnya si anak bertiga berlari-larian. Dan gilanya lagi, maen bola! What??? Di rumah makan maen lempar-lemparan bola. Gila ajah orang tuanya. Firasat buruk dah bola bakal nyasar ke meja kami. Sekali bola hampir mendarat di meja, bibirku langsung manyun. Berharap orang tuanya menegur si anak dan meminta maaf. Tapi nihil, seakan tidak terjadi apa-apa. What????

Dug! Kembali bola mengenai kaki meja saya. Gantian ibu yang mulai terusik. Keningnya berkerut. Si anak mengambil bola di bawah meja tanpa permisi. Ibu hanya geleng-geleng. Anak kecil jaman sekarang…gumam ibu. Dan ajaibnya, orang tunya tetap diam. Darah muda bergejolak. Tapi tetap saya tahan. Kalo masih berulang berarti orang tunya kudu di tegur. Benar saja, brak….bola mendarat di meja. Langsung saya berdiri menghampiri mereka. “Maaf Pak…Bu…tolong anaknya diajari sopan santun, ini rumah makan bukan lapangan sepak bola…” labrak saya. Kontan mereka gelagapan, lha wong perawakan saya menakutkan. Tinggi, besar, hitam, plus jenggot yang belum tercukur. Ee tapi kok ya tapi…udah ta labrak gitu juga ga ada kata maaf. Mereka hanya bergegas ngeloyor pergi setelah membayar billing

Aduuh….cerita lain ketika saya rapat dengan seorang kawan. Seorang ibu pengusaha muda dengan dua anaknya yang duduk di bangku sekolah dasar. Si ibu memang lebih banyak berada di jalan daripada stay di rumah mengurus anak. Sementara si anak lebih banyak bersama pengasuh. Ya bisa ditebak, sepanjang memimpin rapat saya mulai cemas. Tingkah laku anak membuat saya tidak nyaman. Memukul-mukul teman rapat lain. Wah bahaya ini kalo saya yang dipukul. Benar saja, pukulan pertama mengenai muka saya, jelas sakit karena saya memakai kacamata. Dan itu berulang. Kejadian itu bukan pertama kali terjadi. Bahkan pernah meludahi muka saya. Tapi beberapa rapat sebelumnya kelakuan si anak juga membuat gerah. Pernah teman menegur si ibu. “Bu, anak ibu rada nakal ya…”. Langsung marah si ibu, anak saya ngga nakal yah, jangan biasakan panggil anak nakal, anak saya itu kreatif…. Hadooh, tepok jidat. Dan memang kali ini saya harus menegur. Bagaimana rapat bisa berjalan nyaman jika tingkah polah si anak rada keterlaluan. Maaf Bu…gimana rapat bisa berjalan jika anak ibu seperti itu. Dan memang, belakangan saya baru tahu. Si ibu mendendam ke saya gara-gara teguran saya itu. Sekali lagi tepok jidat, ga rela anaknya saya peringatkan…

Teringat ketika saya kecil. Sopan santun dan menghargai orang yang lebih tua menjadi pelajaran utama. Hal itu selalu saya ingat hingga sekarang. Bahkan ketika saya berlaku kurang sopan, saya selalu di ingatkan. Cukup dengan tatapan mata saya keder, diam, kembali duduk manis. Itu tak lepas dari didikan orang tua, jika tidak nenek saya selalu mengingatkan.

Nah, jika mau mengaca. Kenakalan anak kecil sekarang tidak lepas dari kurang bijaknya orang tua mendidik anak. Segala kemauan anak dituruti. Anak merengek sedikit dituruti. Imbasnya apa? Anak berani terhadap orang tua. Sering saya mendengar curhatan kawan yang mengeluh soal finansial, anak saya jajannya banyak. Lha balik saya tanya, dirimu merasa ngajarin anak jajan ga? Saya pun memiliki dua ponakan dengan karakter berbeda, satu nakal dan suka jajan, satunya santun dan memang ga suka jajan. Setelah saya runut ke belakang, orang tua menjadi faktor resiko terbesar. Sejak kecil diajari jajan yang sayangnya…. Duh! Atas nama prestige… -.-“

Kembali ke kasus anak tadi. Anak meludah dan memukul orang yang lebih dewasa itu bukan KREATIF. Tapi TIDAK SOPAN. Nah jika tidak ingin orang lain yang menegur. Cobalah untuk menegur anak anda terlebih dahulu. Kenakalan anak adalah cerminan ketidak mampuan orang tua dalam mendidik. Jangan beralasan faktor lingkungan juga. Orang tua bisa kok mengontrol pengaruh lingkungan. Jadi jangan cari-cari alasan untuk pembenaran.

#peace be upon us

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s