Fokus!

pak rudi

Jika berada di tempat baru, sudah menjadi kebiasaan untuk menyapa atau berinteraksi dengan orang-orang baru pula. Mengexplore kesuksesan orang lain menjadi guru terbaik. Menemukan cerita-cerita hebat yang sangat mungkin untuk saya serap dan adaptasi. Menjadikan semangat, bahwa banyak orang sukses yang memulainya dari bawah.

Begitu pula weekend pertama di bulan Januari. Pagi-pagi saya turun dari kamar hotel Royal Ambarrukmo menuju restoran untuk breakfast, sengaja saya memisah dari kawan-kawan lain. Mencari posisi meja strategis berharap ada orang hebat duduk semeja. Saya yakin, apa pasal? Weekend hampir dipastikan kamar hotel full booked. Dan akan terjadi aktivitas crowded di restoran saat sarapan pagi.

Berada di hotel bintang lima tentu tamu yang menginap bukan orang biasa. Dari pengusaha, pejabat, hingga kalangan profesional. Saya tak ingin momment seperti ini terlewatkan. Saya butuh guru hidup, saya butuh cerita dari praktisi, bukan sekadar teori-teori motivasi. Dan begitulah cara saya belajar. Berkumpul dengan orang hebat akan memudahkan kita menjadi orang hebat pula bukan?

Law of attraction works! Seorang bapak paruh baya menghampiri. Saya tersenyum pertanda mempersilahkan beliau duduk semeja. Dari potongannya ada dua kemungkinan, mantan pejabat atau seorang pengusaha. Waitress menghampiri. Coffee atau teh bapak? Saya lebih memilih teh, sudah menjadi kebiasaan sejak kecil menyeruput teh hangat di pagi hari. Ada yang hilang tanpa secangkir teh menamani. Dan tentu saja, camilan ringan dan roti sebagai pembuka. Sementara si bapak memilih kopi hangat, piring kecilnya terisi sepotong roti croissant.

Sendirian saja bapak? Sapa pembuka saya. Oh tidak, bersama anak-anak dan cucu-cucu. Tangan beliau menunjuk serombongan keluarga muda yang sedang sibuk mengambil makanan. Tawa renyah cucu-cucu beliau mengambil ice cream yang memang menjadi menu sajian. Wow, betapa rukun dan kompaknya. Bersama keluarga besar liburan bersama. Menjadi impian baru ketiksa saya senja kelak ^^

Obrolan beralih seputaran aktivitas saya. Air muka sang bapak menjadi cerah tanda berminat. Saya bercerita tentang usaha yang saya rintis dan cerita-cerita petualangan. Tentu itu hanya sebagai pencingan untuk mengetahui bidang beliau. Dari beberapa hal yang kami bicarakan beliau tampak antusias dengan topik seputar bisnis. Dor! Hampir bisa dipastikan beliau seorang pengusaha. Dan memang benar, beliau salah seorang pengusaha garment sukses di Solo. Tak hanya garment, beberapa bisnis lain beliau miliki. Namun sekarang beliau lebih banyak di aktivitas sosial, sementara bisnis sudah beliau wariskan ke anak-anak.

Mas, saya dulu itu orang susah, orang tidak punya. Orang tidak punya itu ga enak, suka diremehkan, suka di gunjingkan. Itu yang mengilhami saya untuk berdagang dan memperbaiki diri. Dulu saya memulai dari membuka toko kecil jualan  kebutuhan pokok. Kuncinya mas, kejujuran dan bersikap baiklah terhadap karyawan dan lingkungan sekitar. Setiap awal bulan saya undang tukang-tukang becak untuk datang, saya bagikan beras. Imbalannya, dengan suka rela mereka sering merekomendasikan toko saya untuk kulakan. Karyawan pun senang dengan keramahan, hingga akhirnya toko terus berkembang semakin besar.

Setelah sukses, paradigma masyarakat terhadap saya berubah. Maaf mas, tapi memang seperti itu kan? Yang di hormati di lingkungan kita itu yang kaya? Terkadang saya juga miris akan hal itu. Tapi untungnya, jika kita itu sukses dari bawah, kita akan lebih banyak bersyukur, jadi tidak semenena-mena terhadap yang dhuafa. Teruslah berbagi, teruslah bantu mereka, itu pupuk rejeki kita.

Saat bisnis sudah stabil, mulailah untuk membuka usaha-usaha baru. Dan berdirilah industri garment yang lumayan maju sekarang. Sebagai pengusaha, otak harus kreatif. Sampeyan harus ulet. Jangan mudah menyerah dan jauh-jauh dari rasa takut akan gagal. Energi sampeyan masih tinggi. Jangan hamburkan sia-sia…

Rupanya beliau faham akan kesulitan saya. Sebagai business start up memang terkadang saya terlalu di lelahkan oleh masalah karyawan dan suara tetangga kiri kanan. Karyawan yang menuntut ini itulah, tetangga yang iri ini itulah, aih….benar-benar menguras energi. Jika di turuti dan di dengarkan ga akan ada habisnya. Harusnya kita berfikir bagaimana omzet menanjak, malah di ganggu dengan suara-suara yang beredar di masyarakat. Di kira pake dukunlah, maen pesugihanlah. Hahahaha…dan memang benar. Kultur budaya di desa memang terkadang belum siap. Orang yang awalnya bukan apa-apa, tiba-tiba bisa beli tanah bangun rumah adalah hal yang tidak wajar. Apalagi si empu bukan pegawai kantoran, sehari-hari di rumah kok bisa kaya ya? Aih…..lelah membahasnya T.T

Sampeyan kudu fokus di pengembangan usaha, lanjut beliau. Selebihnya angkat orang kepercayaan untuk mengelola. Hm bener juga, untuk membesarkan usaha saya bukan Superman yang one man show. Marketing saya, purchasing saya, produksi saya, distribusi saya pula. Lah jadi karyawan di perusahaan sendiri donk?? Semakin besar usaha seharusnya kita semakin tidak terikat oleh pekerjaan.  Hahahaha…..

Tau mengapa petinggi-petinggi perusahaan besar kerjanya hanya main golf?

Karena kerja mereka hanya berfikir, fokus mau di bawa kemana perusahaan. Selebihnya esekusi serahkan pada direktur dan manager-manager untuk diterjemahkan kepada karyawan. Bermain golf mengajarkan untuk fokus, memasukkan bola ke target. Bukankah membesarkan usaha itu harus fokus?

Duarrrr….!!!! Nasehat yang cethar membahana. Jika mau berkaca memang ada benarnya juga. Di samping usaha pikiran saya masih di kaluti oleh hal-hal yang sebenarnya bisa di eliminir. Fokus terpecah, hingga akhirnya galau hendak di bawa kemana. Semoga ini bisa menjadi pembelajaran bagi saya dan kawan-kawan semua. Esok lebih cerah…!!!

#peace may be upon us

Advertisements

6 thoughts on “Fokus!

    1. kiaracondong2012 Post author

      Sama-sama. Bapaknya juag cerita kalo susah cari orang yang bisa dipercaya, ada seleksi alam. Beberapa kali beliau kena tipu juga, tapi beliau ikhlaskan. Nah ikhlasnya itu yang kudu belajar banyak ^^

      Reply
  1. Pingback: Dream Board « Counting Down

  2. Pingback: Tidak Ada Di Dunia Ini Yang Kebetulan « Counting Down

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s