Hati-Hati Dengan Pikiran

Kenangan manis PKPA RSUD Margono

Kenangan manis PKPA RSUD Margono

Pernahkah anda melewati jalan yang sepi, banyak kerikil tajam, malam-malam, kemudian muncul was-was dalam pikiran. Wah kalo sampe bocor bisa gawat nih, pasti susah nemu tukang tambal ban. Eh kok ya ndilalah tak berselang lama motor mulai oleng dan bocor beneran. Udah nuntun jauh ternyata ga kunjung pula nemu tukang tambal ban. Hadoohhh…derita…. (T.T) Ya kalo ga sedang keburu-keburu sih bisa buat program pelangsingan. Kalo sedang buru-buru?

Hm kasus lain misal, waduh dompet ketinggal di rumah. Padahal SIM & STNK ada di sana. Sementara keburu berangkat ke kantor. Pikiran di jalan mulai cemas, bisa berabe nih kalo ada razia polisi. Pikiran hanya membayangkan kemungkinan-kemungkinan buruk ketangkap polisi. Eh kok ya beneran ketangkap polisi. Maaf Pak, bisa saya lihat surat-suratnya? Terus hanya nyengir, keringat dingin, dan kena tilang deh. Hehehehe…

Saya dulu tipe orang seperti itu. Selalu berpikiran buruk terhadap apa yang akan terjadi saat sesuatu tidak pada jalurnya. Dan apesnya emang menjadi kejadian beneran. Saat saya menempuh program profesi Apoteker, adalah hal biasa setiap akhir pekan bolak balik Jogja – Banyumas. Kebetulan saya di tempatkan di RSUD Margono Soekarjo, Purwokerto. Karena jiwa petualang, saya membawa sepeda motor sendiri. Maklum mahasiswa, pinginnya irit dan kelihatan seperti laki-laki. Hehehehe…

Perjalanan di Alas Krungkut (hutan) selalu menjadikan hayalan sendiri. Hutan lebat, jauh dari pemukiman, dan jalan naik turun. Siang ajah tampak sepi apalagi kalo malam hari. Wah motor kalo macet di situ bisa gawat. Apalagi di tambah bumbu seru nan menyeramkan seputar manusia-manusia obor yang berjajar di pinggir jalan dan keangkeran hutan itu. Bulu kuduk merinding. Sebelas dua belas lah dengan Alas Roban. Eh kok ya itu masuk dalam alam bawah sadar. Dan selalu saja menimbulkan rasa was-was.

Tidak seperti biasanya, Sabtu itu saya jatah jaga di bagian Apotek RSUD hingga jam 5 sore. Kantong mulai menipis, di dompet hanya tersisa uang 50 rb. Bergegas kembali ke asrama, mandi dan memanasi motor untuk kembali ke Jogja. Perjalanan normal Purwokerto – Jogja dengan sepeda motor bisa ditempuh 3 hingga 4 jam. Tergantung kepadatan lalu lintas dan kondisi cuaca. Sejak berangkat memang sudah pikiran jelek yang menghinggapi, tapi memang kudu pulang karena tak lagi memiliki uang (saat itu belum punya rekening bank). Sebelum memasuki Sokaraja isi bensin full 25 rb, di kantong tersisa 25 ribu untuk jaga-jaga. Kemudian melanjutkan perjalanan.

Sebelum tanjakan krungkut hari mulai gelap dan kondisi lumayan sepi. Sedikit gerimis saat itu, pikiran sudah kemana-mana. Satu persatu manusia obor berjajar. Aih gawat kalo ada apa-apa dengan motor saya di sini. Dan benar saja, tarikan gas mulai terasa berat. Namun tetap saya paksakan. Berjalan beberapa lama dan masuk daerah yang semakin sepi. Tek! Terasa getaran di genggaman. Motor kehilangan tenaga. Saya putar gas tetap tidak memberikan efek. Mesin mati….

Haduh…ini dikerjain penunggu hutan apa yah. Pikiran sudah kemana-mana. Isinya hanya berdoa. Melihat jam menunjuk pukul 19.00 malam, mana ada bengkel buka jam segini. Alat perbengkelan pun saya ga ada. Saya tuntun (bahasa Indonesia-nya apa yah?) sepeda motor menapaki tanjakan, beratnya. Dilema, balik atau lanjut arah Jogja. Sama;-sama jauh. Yang ada gelap, haduh…pikiran negatif muncul lagi. Bakal jauh ini nuntun sepedanya, dan bakal sulit cari bengkel. Dan benar saja, hingga jauh ta kunjung menemukan pemukiman. Hadooh…

Wajah sedikit cerah ketika memasuki area pemukiman. Kebetulan bertemu dengan warga. Maaf Pak, bengkel paling dekat dan masih buka di mana ya? Wah, masih jauh mas. Sekitar 1 km lagi kiri jalan. Gubrak!!! Lemas, beruntung jalan sedikit menurun, jadi sesekali saya menaiki sepeda motor dengan memanfaatkan grafitasi, motor menggelinding dengan sednirinya. Tapi saat menanjak? Langsinglah saya cadangan lemak terbakar.

Belum selesai hingga situ. Sesampainya bengkel ternyata sudah tutup. Perfect, hahaha… Namun sedikit ada kemudahan, mas penjaga bengkel belum pulang dan msih bersedia untuk membantu. Mesin motor dibuka, fiuh… Tenyata spuyer patah sehingga bensin tak mampu menetes. Dan kabar baiknya, bengkel tidak memiliki spare part sesuai jenis motor saya HONDA GL PRO Neotech. Gini ajah mas, mau ngga saya ganti dengan spuyer punya Binter Mercy. Yang penting mas bisa sampai Jogjah dulu. Langsung saja saya mengangguk. Dua jam utak atik di bengkel dan mesin kembali menyala. Hm untuk reparasi habis 25 rb. Apa artinya kawan? Uang saya habis. Sementara menuju Jogja masih 2/3 perjalanan lagi.

Pikiran kembali cemas. Jika ada apa-apa saya tidak memiliki uang lagi. Memasuki Purworejo saya memilih melalui jalur pintas, meski lebih sepi dan gelap namun jalur lebih pendek daripada melalui kota. Melalui tengah sawah yang panjang dan gelap. Cetak…!!!! Arrrggghh kembali gas motor tak mampu untuk di tarik. What? Di tengah sawah, gelap, jam 22.00 malam. Saya mencoba untuk tenang. Kembali motor saya tuntun, ada sekitar 1 km saya berjalan hingga menemukan pos ronda. Warga yang baik hati menanyakan kesulitan saya. Wah bengkel sudah tutup semua mas jam segini. Gini ajah, mas tunggu di sini, saya carikan montir sepeda motor. Wah baiknya…

Saya bicara jujur kepada warga. Saya perjalanan jauh dan tak memiliki uang. Tapi hingga 1 bulan kedepan bakal masih sering melewati daerah ini. Montir datang, memeriksa sekilas motor saya. Hm, ini kawat gasnya putus mas. Spuyer terlalu besar jadinya putus. Waduh terus gimana nih mas? Tanya saya sedikit panik. Gini ajah kalo mas ga ada uang, saya coba sambung saja. tapi kemungkinan hanya bisa sampe Jogja. Selebihnya mas harus ganti yang baru. OK angguk saya. Pikiran berkecamuk. Uang tidak ada. Terus gimana mas saya bayar jasa-nya. Udah seadanya saja mas punya berapa. Teringat di tas ada uang 10rb yang tak pernah saya pake. Apa pasal? Uang itu adalah uang gaji pertama saya saat menjadi asisten dosen ketika masih S1. Tapi mau bagaimana lagi, harus saya ikhlaskan. Alhamdulillah perjalan lancar hingga tiba di Jogjah jam 02.00 dini hari dna menjadi cerita tak terlupakan.

So apa hikmahnya kawan? Pikiran mempunyai kemampuan untuk meng-create apa yang akan terjadi. Alloh mengikuti prasangkaan hamba-Nya. Pikiran men-drive universe untuk mewujudkan menjadi realita. So jika pikiran kita buruk, hal buruk itulah yang akan terjadi. Jika pikiran kita bagus dan baik, hal baik dan bagus itulah yang akan terjadi. Lingkungan itu bersifat netral, sementara pikiran kita yang akan memberikan warna hitam, hijau, merah atau putih. Berhati-hatilah dengan pikiran.

Pikiran pun memegang peranan penting dalam kesuksesan. Jika kita berfikir kesuksesan, InsyaAlloh sukseslah yang kita dapat. Itu gunanya jika kita ingin sukses, bergaulah dengan orang-orang yang sukses. Mengapa demikian? Karena pikiran kita akan dipenuhi dengan kesuksesan kesuksesan. Berbeda jika kita banyak berkumpul dengan orang yang selalu mengeluh akan kehidupan. Yang ada hanya pikiran negatif bukan?

So mulailah dengan berfikir positif. Penuhi pikiran dengan kesuksesan-kesuksesan. Selamat beraktivitas kawan.

#kedamaian selalu bersama kita ^^

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s