Lembaga : Legalitas Komunitas

Komunitas Sosial

“Mas Aree, besok mohon bantuan menjadi pembicara di komunitas ya…” pesan melalui Blackberry Messenger beberapa waktu yang lalu. Undangan untuk mengisi sesi business sharing di kalangan komunitas perajin menjadi aktivitas rutin selepas jam kerja. Dari komunitas yang letaknya jauh di pucuk pegunungan seribu, hingga blusukan kampung-kampung kecil di wilayah Bantul. Ya setidaknya nambah sedulur (menambah sodara) kalo orang Jawa bilang. Dan saya memang menikmatinya, berbagi itu indah…

Dari sekian banyak komunitas yang saya kunjungi, rata-rata belum mengerti bahwa aspek legalitas komunitas memegang peranan penting untuk kemajauan komunitas itu sendiri. Komunitasnya sudah berbentuk lembaga atau koperasi bapak? Sontak dengan bangga menyebut bahwa mereka sudah berbentuk koperasi, melakukan aktivitas simpan pinjam. Saat saya tanya, akta pendirian koperasinya ada? Langsung mereka memble… Atau paling sering kompak paduan suara…oooo….koperasi itu kudu ke notaris dan bikin akta ya? Haduhhhh…tepok jidat ^^

Dan yang menarik, pertanyaan paling sering saya dapatkan adalah… Mas gimana sih cara mengakses hibah-hibah atau bantuan dari pemerintah, kok komunitas A (sebut saja begitu) sering dapat bantuan alat maupun pelatihan? Nah lho, ketahuan mereka undang saya untuk apa. Dikira saya perajin proposal kali yah. Hahahaha…

Oke, berhubung saya baik hati saya coba share salah satu syaratnya, yaitu : legalitas. Memang mayoritas hibah atau bantuan dari pemerintah maupun swasta (dalam maupun luar negeri) hanya bisa diakses oleh komunitas, bukan atas nama individu. Tak lepas untuk meminimalisir penyalahgunaan maupun kemudahan untuk monitoring. Sayangnya hal ini kurang disadarai oleh kebanyakan komunitas. Nah legalitasnya apa? Minim memiliki akta notaris berbentuk lembaga atau koperasi. Nah dalam artikel ini saya coba share step by step pembuatan lembaga untuk suatu komunitas (untuk koperasi akan saya share dalam artikel terpisah).

Persyaratan yang pertama adalah kepengurusan lembaga. Paling sederhana telah memiliki struktur organisasi yang terdiri dari ketua, sekretaris, dan bendahara. Nah ketiga calon pengurus tersebut membawa fotocopy KTP kemudian menghadap ke notaris untuk membuat akta lembaga. Alangkah baiknya jika sebelum menghadap notaris telah memiliki “maksud maupun tujuan” dari pendirian lembaga, dalam bahasa keren-nya memiliki AD/ART lah. Jika masih bingung bisa konsultasikan ke notaris yang bersangkutan tentang format AD?ART tersebut. Cukup mudah kok, rata-rata notaris telah memiliki template, tinggal edit sesuai dengan kebutuhan. Biaya pengurusan akta berkisar Rp 500.000,- Cukup murah bukan? Lama proses pembuatan 1 – 7 hari kerja. tergantung notarisnya ^^

Step kedua datang ke kantor pajak untuk mengurus NPWP lembaga. Bertiga boleh jika tidak berani, tapi sebenarnya cukup ketua saja yang datang membawa fotocopy KTP. Prosesnya cepat dan gratis. Kecuali si ketua minta uang makan setelah antri menunggu lama di kantor pajak. Hahahaha…prosesnya cukup 1 hari kerja dah jadi. Tapi jangan lupa, setiap bulan wajib apel ke kantor pajak lagi untuk pelaporan SPT.

Step ketiga, pengesahan akta lembaga di kejaksaan. Nah jika akta di notaris sudah jadi, dalam artian sudah dilakukan review dan di tandatangani pengurus, saksi-saksi dan notaris silahkan di fotocopy sesuai kebutuhan. Nah biasanya di kejaksaan diminta fotocpy akta dan fotocopy NPWP. Prosesnya cepet, cukup datang ke loket. Menyerahkan akta asli, copy akta, kemudian copy NPWP. Dipersilahkan duduk untuk sekadar BBM-an atau whatsapp-an, boleh juga browsing atau lihat rame-rame jika ada sidang. Dan viola…jadi deh. Dari pengalaman, rata-rata di tarik biaya administrasi Rp. 3.000,- Tapi mungkin berbeda kejaksaan berbeda pula tarifnya yah ^^

Oke, kemudian yang terakhir adalah pembukaan rekening bank atas nama lembaga. Kalo ga punya rekening, ada hibah mau dicairin lewat mana? Tentu ga bisa pake rekening pribadi donk. Nah untuk yang satu ini ketua ga bisa datang sendiri, minim ada satu orang yang menemani, biasanya bendahara. Nah buka rekening seperti biasa, tentu setoran awal berbeda-beda untuk masing-masing bank, tapi saya terbiasa membuka rekening dengan setoran awal Rp. 100.000,- Jadi deh lembaganya…. ^^

Nah namun ada catatan lain. Jika mengakses bantuan permodalan maupun pelatihan dari pemerintah, syarat yang umum lembaga harus berusia lebih dari satu tahun. Jadi sangat sulit bagi “lembaga instan” untuk “bermain”. Selamat membuat lembaga kawan ^^

#may peace be upon us

Advertisements

4 thoughts on “Lembaga : Legalitas Komunitas

  1. tsabitalaa

    Salam kenal mas,

    Terima kasih sudah berkenan sharing mengenai legalitas komunitas. Ada beberapa hal yg ingin saya tanyakan lebih jauh:

    1. Jika kita mendirikan lembaga di suatu wilayah, namun KTP kita bukan KTP daerah tsb, kita pendatang. Apakah proses pembuatan akta dan npwp lembaga bisa diproses di daerah tsb?
    Sbg contoh, KTP saya KTP Banten, tp saya ingin melegalkan komunitas kami di Jakarta. Apakah bisa?

    2. Apakah dlm mengajukan legalisasi, kita harus memiliki sekretariat/kantor?

    Mohon kesediannya utk menjawab pertanyaan diatas.
    Terima kasih sebelumnya.

    Reply
    1. Aree Post author

      Salama kenal,

      Terima kasih sudah berkunjung ke blog saya. Saya coba bantu jawab sepengetahuan saya yah.
      1. Dalam pembuatan akta di butuhkan KTP minimal ketua, sekretaris, dan bendahara. Untuk ketiga KTP berbeda domisili saya belum pernah proses, namun saya pernah bantu proses lembaga dengan KTP berbeda daerah untuk sekretaris dan bendahara dan dapat di proses. Alangkah baiknya konsultasikan ke notaris terdekat. Umumnya tanya persyaratan ke notaris “free” alias tidak berbayar kok.

      2. Untuk memiliki sekretariat/kantor jelas harus. Karena akan dicantumkan alamat di akta. Namun tidak perlu cemas, rumah tinggal / kontrakan pun bisa dijadikan sebagai sekretariat, tidak harus menunggu menjadi kantor yang full fasilitas. Yang penting ada alamat jelas.

      Semoga cukup membantu.

      Reply
  2. annas

    min, izin bertanya. kalo kumpulan motor, apakah bisa buat perizinan seperti ini? atau dijadikan ormas? mohon petunjuk dan arahannya.

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s