Mengapa Tidak Lahir Dari Orang Tua yang Kaya?

Mengapa Kaya

Ketika terpuruk sering saya mengeluh, mengapa saya tidak terlahir dari keluarga yang kaya raya. Tak perlu repot, mau membangun usaha modal sudah tersedia. Tinggal merengek dan violaa….bisnis ada! Tapi itu pikiran picik yang harus dihilangkan. Hm tapi jika mau jujur, berapa banyak orang yang memiliki pemikiran seperti saya? Hahaha…satu orang? Dua orang? Atau justru ribuan dan jutaan orang?

“Kamu enak Ree….mulai usaha modal sudah ada…”

Ujar salah satu customer ketika bertandang ke Rumah Kayu. Wew..berarti manusiawi juga. Orang cenderung melihat kesuksesan dari hasil saja, bukan history dan perjuangan menuju sukses. Ya wajar, dia berinteraksi dengan saya kisaran 12 bulan belakangan. Bukan dari awal ketika saya benar-benar pada posisi nol besar, atau lebih tepatnya minus karena saya harus menanggung beban yang sebenarnya bukan kuwajiban saya pribadi.

Down juga ketika pada posisi terpuruk harus merintis usaha. Kondisi sedang labil, lepas Romo (bapak_Jawa) meninggal keluarga di ujung perpecahan. Duh! Harta..harta… Saya memilih out dan mengontrak rumah kecil. Menjauhkan otak dari kontaminasi, menjernihkan pikiran. Bagi sebagian orang memang menganggap saya aneh, single, anak paling kecil dan tinggal sendiri. Apa ga kesepian? Justru “sepi” yang saya cari. Detoksifikasi..ilangin racun di otak.

Jika tanya financial? Tentu justru minus. Karena untuk kontrak rumah saya pinjam teman. Lepas lulus kuliah lagi. Jadi ga ada tabungan. So bagaimana saya merintis usaha? Tentu relasi memegang peranan. Modal utama saya adalah “trust”. Lha gimana lagi, BPKB buat jaminan ga punya…apalagi sertifikat. So masih mau berkilah ga punya modal uang ga mungkin merintis usaha?!

Dua belas bulan usaha growth makin pesat. Meski diwarnai juga fase “down” tapi justru itu kuda-kuda untuk maju dan berkembang. Alhamdulillah di penghujung tahun bisa membeli sebidang tanah. Dan di bulan ke dua puluh empat sudah berdiri Rumah Kayu Mini. Meski sederhana tapi milik sendiri. Puas rasanya…memiliki usaha dan investasi dari jerih payah sendiri.

Bulan ke dua puluh lima saya mulai berani pulang. Menunjukkan ke saudara-saudara lain bahwa saya bisa survive. Tak perlu berebut apa yang orang tua tinggalkan. Alhamdulillah…semua baik-baik saja. Bahkan bargaining position saya makin mantab, yang tidak “diberi” justru paling bisa bertahan. Sungguh Alloh Maha Adil.

Bulan ke dua puluh enam saya ajak ibu dan keluarga outing bersama karyawan. Sungguh haru, rasa yang dua tahun hilang hadir kembali. Dan tentu saya bukan sosok dua tahun lalu. Bukan orang yang berpikiran picik mengapa tidak dilahirkan dari lingkungan yang kaya. Tapi mindset saya sudah berubah, saya bisa kaya dan sukses dengan perjuangan dan izin Yang Maha Kuasa.

Memasuki tahun ke tiga banyak dari impian yang telah tercapai. Business yang running bagus, rumah, bahkan business trip dan jalan-jalan ke luar negeri. Saya bisa kembali ke keluarga besar dan bercerita kepada keponakan-keponakan. “Jangan pernah mengeluh karena tidak dilahirkan dari orang tua yang kaya…”

#May peace be upon us

Advertisements

9 thoughts on “Mengapa Tidak Lahir Dari Orang Tua yang Kaya?

  1. Rangga Aditya

    Pengalamanmu luar biasa ari, terakhir ketemu kamu masih mau bantuin orang tua “ngleketi” daging kambing……terharu atas perjuanganmu saat ini. salam semangat

    Reply
    1. Aree Post author

      Wew mas Rangga… iya, terakhir ketemu masih unyu2. Itu ajah kita tak bisa cerita banyak karena dirimu harus ke Semarang. Apakabar sekarang?

      Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s